Apa itu EDUKASI?

 

E          = Eksplorasi

D         = Demonstrasi

U         = Uraian (konsep)

K         = Kontemplasi

ASI      = AplikaSI

 

Kebanyakan guru IPA, dan mungkin guru bidang studi lainnya, ingin membuat pengajaran mereka di kelas sejalan dengan Standar Kompetensi yang telah dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional. Menerapkan siklus belajar merupakan salah satu jalan untuk menuju itu. Namun demikian, tuntutan yang berlimpah terhadap guru membuat mereka sulit untuk belajar hal-hal baru dan memperkenalkan strategi-strategi pengajaran yang up to date.

Muatan di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sarat dengan pengajaran inquiry dan sesuai dengan pengalaman belajar siswa atau belajar yang bermakna. Untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, pengajaran harus disesuaikan agar siswa : (1) menyadari pengetahuan mereka sebelumnya; (2) bekerja secara kooperatif dalam lingkungan belajar yang positif dan aman; dan (3) membandingkan ide-ide baru dengan pengetahuan sebelumnya. Selain itu, pendidik juga harus menghubungkan gagasan baru dengan apa yang sudah diketahui siswa, membangun pengetahuan “baru” dan mengaplikasikan pengetahuan baru tersebut dalam situasi yang berbeda dengan saat dipelajari.

Salah satu model pengajaran sains yang berbasis inquiry dan metode pengajarannya berpusat pada siswa adalah learning cycle (siklus belajar). Learning cycle dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu. Model pengajaran siklus belajar (learning cycle) awalnya diajukan oleh Robert Karplus. Model ini berdasarkan pada teori Piaget dan melibatkan pengajaran dengan pendekatan konstruktifisme. Model siklus belajar bertujuan membantu mengembangkan berpikir siswa dari berpikir konkrit ke abstrak (atau dari konkrit ke formal).

Siklus belajar umumnya memiliki tiga fase yaitu fase eksplorasi, eksplanasi dan aplikasi konsep. Pada fase eksplorasi siswa diberi kesempatan menyelidiki materi dan/atau ide-ide sehingga pola keteraturan ditemukan dan pertanyaan diajukan kepada siswa. Fase eksplanasi memberikan kesempatan pada guru memperkenalkan konsep dan menjelaskan konsep yang baru diselidiki. Fase ketiga, aplikasi konsep, merupakan fase membangkitkan siswa untuk mencari pola dan menerapkan konsep pada situasi baru (Lawson, 1988 dalam www.google.com).

Siklus belajar merupakan strategi yang hebat bagi pengajaran sains di tingkat menengah pertama dan menengah atas karena model pengajaran ini berjalan fleksibel dan menempatkan kebutuhan yang realistis pada guru dan siswa. Guru sebaiknya melakukan satu atau dua perubahan pada satu waktu. Jika guru dan siswa merasa nyaman dengan perubahan tersebut, maka saatnya untuk meneruskan pembelajaran (Colburn dan Clough, 1997).

Penelitian mengenai siklus belajar mendukung efektifitas dalam mendorong siswa untuk berfikir kreatif dan kritis, serta memfasilitasi pemahaman yang lebih baik tentang konsep ilmiah, meningkatkan keterampilan proses sains, dan menggali keterampilan penalaran yang lebih tinggi. Beberapa hasil studi yang telah mengembangkan dan menerapkan model ini dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menunjukkan bahwa model siklus belajar lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar (Syuaidi, 2000).

 

Perkembangan dan Konsep Siklus Belajar

           Learning cycle merupakan strategi pengajaran yang secara formal digunakan di program sains sekolah dasar yaitu Science Curriculum Improvement Study (SCIS 1974). Meskipun strategi ini diterapkan pertama kali di sekolah dasar, beberapa studi menunjukkan bahwa penerapan teknik pengajaran ini telah menyebar luas di berbagai tingkat kelas, termasuk universitas. Model pengajaran ini diajukan oleh Robert Karplus awal tahun 1960-an, sebagai “guided discovery” dan digunakan dalam program sains sekolah dasar SCIS. Karplus menggunakan istilah exploration, invention dan discovery. Istilah-istilah tersebut kemudian dimodifikasi menjadi exploration, concept introduction dan concept application. (Gambar 1).

 

Gambar 1. Siklus belajar menurut Science Curriculum Improvement Study.

 

     Selama fase eksplorasi, siswa terlibat dalam memecahkan masalah atau tugas. Tujuan fase ini adalah melibatkan siswa dalam aktifitas yang memotivasi, membutuhkan pengalaman hands-on dan interaksi verbal, yang akan menyediakan dasar bagi perkembangan konsep tertentu atau konsep dan kosa kata yang berhubungan dengan konsep. Fase ini juga menyediakan kesempatan yang bagus bagi siswa untuk menyadari konsep personal mereka tentang fenomena alam tertentu dan bagi pengajar untuk membantu siswa dalam tanya jawab guna memahami dunia alam sebagaimana juga membantu miskonsepsi yang ada. Misalnya, pelajaran tentang perbedaan utama antara sel tumbuhan dan hewan. Pada fase eksplorasi, siswa mengamati berbagai macam sel (yaitu kulit bawang, epitel squamous dan Elodea) dengan bantuan mikroskop. Siswa akan menggambar sel dan mengidentifikasi perbedaan serta persamaan antara sel-sel yang diamati.

     Fase kedua dari siklus belajar, pengenalan konsep, pengajar mengumpulkan informasi dari siswa tentang pengalaman eksplorasinya dan menggunakan informasi tersebut untuk mengenalkan konsep utama dari pelajaran serta setiap kosa kata yang berhubungan dengan konsep. Selama fase ini, pengajar menggunakan buku acuan, bantuan audiovisual, bahan tertulis lainnya atau ceramah singkat. Dengan menggunakan pelajaran sel sebagai contoh, pengajar meminta siswa melaporkan hasil pengamatan mikroskopisnya dan meminta mereka mengidentifikasi perbedaan dan persamaan sel hewan dan tumbuhan. Pengajar kemudian akan menggunakan informasi ini untuk menjelaskan perbedaan utama antara sel hewan dan tumbuhan. Ceramah singkat tersebut dapat menggunakan OHP atau presentasi audiovisual singkat tentang sel hewan dan sel tumbuhan.

Fase terakhir, aplikasi konsep, siswa mempelajari tambahan contoh konsep utama pelajaran atau melakukan tugas baru yang dapat dipecahkan berdasarkan aktifitas eksplorasi dan pengenalan konsep sebelumnya. Pada pelajaran sel, siswa diberikan slides awetan dari sel hewan dan sel tumbuhan lainnya. Mereka diminta untuk mengidentifikasi masing-masing sel dan menjelaskan alasannya.

Beberapa kerangka pedagogic yang berpusat pada rekonstruksi konseptual melalui siklus belajar bermunculan. Kerangka atau model untuk merencanakan pelajaran sains ini dirancang untuk memberikan pola dalam pengajaran sains. Diantaranya diajukan oleh Barnes (1976), Driver (1986b), Karplus (1977), Erickson (1979), Nussbaum dan Novic (1981), Renner (1982) dan Rowell dan Dawson (1983) serta lainnya. Perbandingan model siklus belajar dari beberapa penganjur diringkas dalam Tabel 1.

Sebagai pendekatan pengajaran, awalnya siklus belajar dihubungkan dengan bahan-bahan dari Studi Peningkatan Kurikulum Sains (SCIS) tahun 1970-an. Kemudian setelah itu banyak versi siklus belajar bermunculan dalam kurikulum sains dengan fase yang berkisar dari 3 ke lima (5E) sampai tujuh (7E). Siklus belajar 5E berdasarkan pengajaran yang dibangun oleh Biological Sciences Curriculum Study (BSCS) pada tahun 1989, terdiri atas lima fase yaitu Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration dan Evaluation (Gambar 2). Sejak tahun 1980-an BSCS telah menggunakan model 5E sebagai inovasi sentral di sekolah dasar, menengah dan atas program biologi serta program sains terintegrasi (Bybee, et al, 2006).

 

EDUKASI Sebagai Salah Satu Strategi Pengajaran Sains

            EDUKASI merupakan strategi pengajaran yang saya coba terapkan di kelas biologi. Setiap huruf dari kata EDUKASI membawa arti untuk setiap tahapan pada siklus belajar. Pada EDUKASI terdapat 5 fase yaitu Eksplorasi, Demonstrasi, Uraian, Kontemplasi dan Aplikasi. Berikut ini dijelaskan masing-masing tahap siklus belajar model EDUKASI:

1. Fase Eksplorasi

    - Pada tahap ini guru memberikan informasi tujuan serta hasil belajar yang akan disampaikan.

    - Guru memberikan aktifitas yang menarik minat siswa yaitu untuk membangkitkan rasa ingin tahu, membangkitkan minat dan seterusnya.

- Aktifitas dapat berupa mengajukan pertanyaan kunci, memperlihatkan gambar, video atau grafik sesuai dengan tema yang akan dibahas.

 

2. Fase Demonstrasi

- Pada tahap ini peran siswa bertambah dibanding pada tahap eksplorasi. Pada tahap ini siswa berpikir bebas, namun dalam batasan aktifitas, misalnya menguji prediksi dan hipotesis atau membentuk prediksi baru dan hipotesis

- Siswa dapat mencoba alternatif dan mendiskusikannya dengan teman kelompok, serta mencatat pengamatan dan gagasan

 

3. Fase Uraian

- Pada tahap ini guru membantu siswa memahami hasil observasi dan pertanyaan yang muncul dari pengamatan.

- Guru meminta siswa menjelaskan apa yang mereka lihat dan memberikan penjelasan mengapa hal tersebut terjadi.

- Pada tahap ini metode verbal paling banyak digunakan, namun guru dapat memanfaatkan video, buku, presentasi multimedia dan komputer.

 

4. Fase Kontemplasi

- Pada fase ini guru merujuk siswa pada data dan bukti yang ada seta bertanya “Apa yang telah kamu ketahui?”, “menurut kalian mengapa…?” (Carin & Bass, 2000).

- Siswa menggambarkan kesimpulan

- Siswa bisa menggunakan informasi sebelumnya untuk mengajukan pertanyaan, mengajukan solusi, dan membuat keputusan, merancang eksperimen, dll.

 

5. Fase ApLikasi

- Pada fase ini guru bisa mendorong siswa untuk menerapkan atau memperluas konsep serta keterampilan dalam situasi baru atau mengamati siswa saat menerapkan konsep dan keterampilan baru

-  mencari adanya perubahan cara berpikir atau sikap siswa

- guru bisa mengajuka pertanyaan terbuka tertutup seperti: “Menurumu, mengapa…?”, “Bukti apa yang kamu punya?”, “Apa yang kamu ketahui tentang x?”, “Bagaimana kamu menjelaskan x?” (Carin & Bass, 2000).

 

Contoh RPP dengan model siklus belajar EDUKASI

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran  : Biologi

Kelas/Semester            : X/1

Alokasi Waktu   : 4 x 40’

 

Standar Kompetensi

1. Memahami hakikat Biologi sebagai ilmu

Kompetensi Dasar

1.1. Mengidentifikasi ruang lingkup Biologi

Indikator

- Memberikan pengalaman inkuiri sehingga siswa dapat membangun definisi tentang hidup menurut biologi

Materi Pembelajaran

Karakteristik makhluk hidup

Model Pembelajaran

Siklus belajar

Langkah-langkah Pembelajaran

1. Fase Ekplorasi

- Siapkan delapan pos. Pada masing-masing pos terdapat tiga atau lebih contoh karakteristik tertentu dari hidup.

- Perlihatkan video Star Trek sehingga menimbulkan pertanyaan “Apa itu Hidup” atau video lain yang memicu diskusi tentang hidup

 

2. Fase Demonstrasi

- Jelaskan kepada siswa bahwa tujuan mereka adalah untuk membangun definisi secara biologis tentang hidup. Selama fase ini, masing-masing kelompok selama 3-5 menit per pos akan:

a. mengamati item-item yang ada pada meja

b. melakukan observasi berkaitan dengan masing-masing item

c. mendiskusikan item mana yang memiliki kesamaan dalam kaitannya dengan ciri-ciri yang mungkin untuk hidup

d. tentukan mengapa item-item tersebut merefleksikan karakteristik tertentu dari kehidupan.

e. tentukan apakah karakteristik tersebut penting untuk hidup. Apa buktinya?

 

Gunakan pertanyaan di bawah ini untuk membimbing pengamatan siswa pada masing-masing meja:

-          Apa yang dimaksud dengan hidup?

-          Apa persamaan item-item tersebut (pada meja yang anda lihat)?

-          Apakah masing-masing karakteristik penting untuk item tersebut agar hidup?

-          Apa buktinya bahwa hal itu merupakan karakteristik dari makhluk hidup?

 

3. Fase Uraian

-  Setelah siswa menyelesaikan pengamatannya, siswa diberi poster besar untuk membangun definisi tentang hidup (menggunakan peta konsep)

 

Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini membimbing konstruksi mereka selama fase Uraian :

a. Agar dapat hidup, apakah organisme harus menunjukkan semua karakteristik yang diamati pada meja-meja specimen?

b. Karakteristik apa yang harus ada agar sesuatu dianggap hidup? Bagaimana karakteristik ini berinteraksi untuk membentuk kehidupan? Tunjukkan hubungan tersebut dalam peta konsep yang kalian buat. Buat peta konsep, lalu dari peta konsep tersebut buatlah definisi biologis tentang hidup.

c. Apakah ada hal-hal di ala mini yang kelihatannya “menunggang” definisi hidup (misalnya virus)

d. Mengapa lebih mudah membangun istilah fisika, seperti “kecepatan”, daripada membangun definisi tentang kehidupan?

 

Pelajaran akan ditutup dengan presentasi siswa. Masing-masing tim perlu menyajikan bukti yang mendukung definisinya.

 

4. Fase Kontemplasi

-  Untuk fase kontemplasi, siswa bekerja dalam kelompok mendiskusikan apakah virus merupakan makhluk hidup atau tidak hidup. Siswa diberi informasi yang ada dalam Tabel 1. Masing-masing tim mencari informasi tambahan dari Internet dan mempersiapkan makalah dengan 250-500 kata yang mengandung lima poin utama. Hari berikutnya, masing-masing kelompok bekerjasama untuk memutuskan tiga poin utama yang akan diangkat dalam kalimat pengantarnya. Setelah kalimat pengantar diucapkan, kelompok akan memulai diskusi yang menggambarkan bagaimana virus memiliki komponen hidup dan tidak hidup. Debat diakhiri dengan pemungutan suara untuk melihat apakah siswa yakin bahwa virus mengandung ciri-ciri dari hidup dan tidak hidup.

 

5. Fase ApLikasi

-  Guru melakukan observasi saat masing-masing kelompok mengeksplorasi berbagai specimen. Guru mengajukan pertanyaan berorientasi inkuiri untuk mendorong siswa agar mempertimbangkan bentuk-bentuk fakta yang berbeda selama observasi: misanya Apa yang dimaksud pertumbuhan? Bagaimana kalian tahu bahwa pertumbuhan telah muncul? Jika saya angkat besi dan otot saya bertambah besar, apakah itu pertumbuhan? Jika saya mengerjakan teka-teki silang dan belajar 20 kata-kata baru, apakah itu pertumbuhan?

 

Guru juga menilai peta konsep untuk menentukan konsepsi siswa tentang kehidupan. Peta konsep akan dievaluasi terutama dalam hal kebenaran dan ketelitian. Akhirnya, siswa melakukan refleksi tentang bagaimana konsepsi mereka tentang kehidupan berubah sebagai hasil dari siklus belajar dikombinasikan dengan karya seni atau puisi tentang kehidupan menggunakan semua karakteristik.

Alat/Bahan/Sumber Belajar

Bahan-bahan: Di bawah ini adalah delapan karakteristik kehidupan dan contoh-contohnya.

 

Karakteristik

Contoh

Respon

Tumbuhan sensitive; mainan bersayap; mainan ambulans; model Superman/ mainan superhero

Pertumbuhan dan perkembangan

Gambar perkembangan manusia; tumbuhan tomat; biji dalam botol; balon bermacam-macam ukuran; kristal; grafik menggambarkan pertumbuhan ukuran otot karena latihan

Reproduksi

Buku pop-up (dengan ibu dan bayi); buku dengan fotokopian halamannya; komik; boneka

Terbuat dari sel

Mikroskop dengan slide berisi sel; kartun; sel sperma; perencanaan rumah

Menggunakan energi

Ragi dalam gula; kalkulator solar; radiometer

Adaptasi

Beruang di kutub; sarung tangan; berbagai macam sikat; berbagai macam sepatu anak-anak;

Organisasi

Ikan; kamus; batu sediment; puzzle;

Bergerak

Tumbuhan mengarah pada cahaya; ikan berenang di air; mesin permen karet

 

Penilaian

Lihat pada fase Evaluasi

Referensi

-          buku biologi SMA

-          buku acuan  biology

 

 

About these ads

5 Comments

  1. galih

    tolong kirimkan referensi tentang metode EPA (eksplorasi pengenalan dan aplikasi konsep)…thanks..

  2. thanks, very useful.

    • allaboutmi

      thank you…I think your blog is also very useful.

  3. Awal Rhamdan

    mba, bsa mnta tlong …
    boleh mnta YM atau email nya ngga…??
    ada yg mau sya tnyain bwt kprluan tugas akhir saya…

    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: