Aktifitas di Kelas

SENYUM ITUPUN AKHIRNYA BERKEMBANG

Diantara seluruh murid di sekolahku, Uli (sebut saja demikian) tergolong istimewa. Bukan prestasi akademik, bukan pula prestasi di bidang olah raga atau seni yang membuatnya demikian. Ia menjadi istimewa karena telah mampu “menemukan” senyumnya kembali.

Uli, yang berperawakan kecil, menyita perhatianku di tengah kesibukanku mengajar di kelas X saat itu. Ketika itu aku tengah memeriksa buku catatan murid-muridku. Aku menaruh perhatian lebih pada buku catatan ini. Karena menurutku, buku catatan amatlah penting dalam menunjang kesuksesan belajar. Ibarat peta, buku catatan dapat menjadi penunjuk arah. Ibarat kamus, buku catatan adalah rujukan dalam mengingat kembali materi yangdiberikan di sekolah.

            Sedih, begitu yang kurasakan ketika mata menyapu halaman dem halaman buku catatan milik Uli. Tulisan tangannya besar-besar dn tidak teratur. Bukunyapun banyak terlipat di sana sini. Dalam diam, hati berkata, “Tulisan anak SD kelas tiga masih lebih baik dari tulisanmu, Nak!”

            Tulisan itu mengantarkan aku untuk memperhatikan Uli lebih serius. Di kelas, perhatianku padanya sedikit lebih banyak dari murid yang lain. Kutemukan bahwa ia begitu pasif di kelas. Ia lebih banyak diam. Karena itu, ia hamper tak pernah mau menjawab pertanyaanku. Alih-alih mengeluarkan suara, ia menggelengkan kepala ketika kutanya! Bahkan untuk melihatnya tersenyumpun akuharus menunggu geledek menggelegar terlebih dahulu. Ada apa dengan anak ini?

            Perhatian lebih yang kuberikan rupanya terbawa sampai di luar kelas. Seluruh gerak Uli mengundang rasa penasaranku. Kebiasaan-kebiasaannya seolah menjadi potongan-potongan puzzle yang kucari dalam “menguak” misteri diamnya Uli.

            Kutemukan satu potongan puzzle itu pada kebiasaan Uli membawa tas ransel cukup besar. Di dalamnya selain berisi buku-buku pelajaran, juga ada bekal makanan yang tak pernah dimakannya. Ya, seluruh makanan yang memenuhi tasnya, dibawanya kembali ke rumah.

            Potongan puzzle yang lain kudapatkan ketika orangtuanya bercerita tentang masa lalu Uli ketika di sekolah dasar dan kebiasaannya di rumah. Serpihan-serpihan informasi yang kudapat mendorongku untuk mencoba melengkapinya menjadi sebuah gambar yang utuh. Kumulai dengan membuat potongan-potongan tersendiri. Aku membantunya mengarahkan cara belajar yang cocok baginya.

Setiap ada kesempatan, berbekal pengetahuan mengenai teori MI, Uli kudampingi, kutuntun dan kuarahkan. Keyakinanku bahwa Uli bisa berubah karena terinspirasi oleh Gardner yang berpendapat bahwa setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengembangkan kedelapan kecerdasan sampai pada kinerja tingkat tinggi yang memadai apabila ia memperoleh cukup dukungan, pengayaan dan pengajaran. Dari obrolanku dengan orangtuanya, Uli tertarik pada computer. Bingo! Sebuah potongan lagi telah kutemukan. Akhirnya aku memintanya untuk membuat sesuatu dengan menggunakan computer. Ternyata beberapa hari kemudian ia datang dengan membawa selembar kertas berisi design sederhana mirip sebuah desain pinggiran bingkai foto. Aku puji Uli.

Puzzle yang kususun hampir lengkap. Lambat laun Uli mulai nyaman dalam belajar. Ia pun tak lagi terasing di tengah-tengah temannya. Dukungan teman sekelas saat itu sangat membantu terhadap kepercayaan diri Uli. Aku mendorongnya untuk aktif dalam kegiatan OSIS. Aku sempat ragu, untuk anak sependiam Uli, aktif di organisasi tentu amatlah menyusahkannya. Namun keraguanku sirna melihat kesungguhan Uli menerima saranku. Lewat “kesediaan” seorang siswa yang lain, Uli mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Namun, ia masih enggan “bersuara”, apalagi tersenyum.

Di kelas XI dan XII, aku dengar sikapnya tak lagi pasif dalam belajar. Setiap ada kesempatan, para guru yang mengajar di kelas Uli senantiasa mendorongnya untuk mau berbicara. Diantaranya dengan memberikan tugas presentasi kelompok. Sejak itu Uli banyak berubah. Ia telah menemukan keceriaannya kembali. Satu hari, menjelang masa-masa akhir kelas XII, tak sengaja aku berpapasan dengan Uli. Anda tahu apa yang membuat hati ini sangat bahagia saat itu? Ia tersenyum padaku!

(Uli sekarang kuliah mengambil jurusan ilmu computer. Kudengar dari para alumni bahwa ia sekarang banyak berubah, senang bicara dan tentunya… mengembangkan sebuah senyum… :-))

7 Comments

  1. ad

    Cerita yg menarik n luar biasa bagi seorang guru . . .

  2. astria

    crita yg btul2 mnarik,,dmna ad kedekatan antra guru dgn ank didiknya,,,sy ingin bs mgjr biologi yg mnynangkn sprti mbk,,,krn byk skli klhan kl bio itu mmbosnkan n ssah di pelajari..^_^

    • allaboutmi

      Terima kasih atas komentar-komentarnya…itu baru sepenggal cerita :-). Kebetulan kami mengajar di tempat yang siswanya heterogen, jadi guru harus berpikir ekstra keras bagaimana caranya bisa mengakomodir semua siswa yang beragam itu dan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan…

  3. Sangat menarik.
    Sering menemukan dlm keseharian aktivitas sy diskolah, namun belum sepiawai Bu Rika menuangkan dlm tulisan.
    Izin posting di web sy ya Bu.
    gitobrahmana.web.id

    Salam kenal

    • Rika Sukmana

      Salam kenal juga,
      Terimakasih. Mangga silahkan, semoga bermanfaat…

  4. Aku ingin jadi guru yang begitu perhatian
    empati dan simpati tinggi
    yang mampu merubah manyun menjadi tersenyum

    • Rika Sukmana

      aku juga…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: