Guru MILITAN dalam Revolusi Pendidikan

Ide judul tulisan di atas muncul begitu saja saat di atas kendaraan menuju perjalanan pulang.

Akhir2 ini saya sangat prihatin melihat kasus-kasus yang menimpa anak-anak sekolah, remaja berseragam sekolah. Sebagai seorang yang berkiprah di bidang pendidikan, saya merasa ada sesuatu yang salah. Tapi entah, salahnya dimana. Kalau saya menyalahkan orangtua, nanti orang tua marah. Kalau saya menyalahkan pemerintah, nanti pemerintah yang marah. Salahkan guru? Nanti ada yang marah juga. Kalau begitu, salahkan sistem saja gitu, ya? Toh sistem bukan sesuatu yang hidup. (Eh, tapi yang membuat sistem itu pastinya makhluk hidup loh…). Ah, sudahlah. Akan panjang bahasannya. Saya hanya akan memaparkan judul tulisan ini.

Guru MILITAN? Eits, jangan kaget dulu. Militan adalah sebuah singkatan. Arti kata militan dalam KBBI adalah bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras. Di era percepatan perubahan pendidikan saat ini, menurut saya guru perlu bersifat MILITAN. Kita kalah cepat dengan kecepatan masuknya informasi melalui media teknologi. Maka dari itu dibutuhkan semangat tinggi dalam mengajarkan kebaikan-kebaikan. Berhaluan keras bukan berarti mengikuti aliran garis keras, namun bekerja keras dalam mewujudkan tujuan dan cita-cita pendidikan nasional di posisinya masing-masing. Apa singkatan dari MILITAN tersebut?

1. M = Mau belajar.
Seorang guru hendaknya senantiasa mengikuti perkembangan zaman. Setiap saat bumi ini bergerak, maka perubahan adalah sebuah keniscayaan. Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, di kongres 2 IGI beberapa waktu lalu berpesan bahwa “jadilah guru pembelajar”. Begitu juga kata ahli hikmah, “Tuntutlah ilmu dari sejak buaian hingga liang lahat”. Artinya, selama kita masih bernafas, hendaknya senantiasa belajar.

2. I = Ikhlas.
Terus terang saya tidak berani mendefinisikan kata yang satu ini dengan bahasa sendiri. Di dalam al Quran ada surat Al Ikhlas, tapi ayat-ayat di dalam surat tersebut tidak ada kata “ikhlas” atau “khalasha”, “yukhlishu”, maupun“akhlasha”. Mungkin seperti itulah ikhlas. Ada, tapi tiada. Menjadi guru senantiasa dituntut memperbaiki niat dan hati agar tulus. Niat yang murni dan bersih tanpa campuran.

3. L = Literasi.
Apa itu literasi? Saya akan mengutip maknanya dari blog pak Satria Dharma, pelopor gerakan literasi sekolah di Indonesia. “Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup”. Jika ingin tahu lebih jauh mengenai mengapa guru harus berliterasi, silakan kunjungi blognya pak Satria di satriadharma.com heheh..

4. I = Inovatif.
Bersikap inovatif merupakan salah satu keterampilan abad 21. Implementasi dari inovasi adalah guru melakukan aksi terhadap gagasan-gagasan kreatif untuk menyumbangkan sesuatu yang nyata dan bermanfaat atau dengan kata lain guru sebaiknya menampilkan sesuatu yang baru, diantaranya memperbaharui metode dan strategi belajar mengajar.

5. T = Terbuka
Seorang guru sebaiknya bersikap terbuka baik wawasan dan pikirannya. Terbuka terhadap pengetahuan baru dan menerima perbedaan dengan sikap bijaksana. Keragaman adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Namun bagaimana menyikapi perbedaan sehingga dapat menjadi sebuah harmoni dibutuhkan sebuah keterbukaan pikiran.

6. A = Aktif.
Guru senantiasa dituntut untuk aktif dan reaktif. Peka dan terbuka. Tidak menunggu bola tapi menjemput bola.

7. N = Nalar.
(Ber)nalar juga merupakan salah satu keterampilan abad 21. Kekuatan berpikir seperti berpikir kreatif dan berpikir kritis (critical thinking) merupakan modal untuk dapat menjalankan pembelajaran berbasis saintifik dalam kurikulum nasional.

Terdengar ideal ya? Mungkin. Tapi inti sari dari semua itu adalah huruf pertama, yaitu huruf M, Mau belajar. Jika tidak ada M, kata militan menjadi ilitan yang dalam bahasa Gayo berarti serba salah/tidak cocok/tidak sesuai…:0

Bandung, 24 Februari 2016.

Bahagia itu sederhana…

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana kejutan dari murid-muridku kelas XII IPA pada tanggal 18 Februari 2016.

Katanya dalam rangka Flower’s Day, yang merupakan program OSIS.

Jadi, mereka memilih siapa yang akan diberikan ‘bunga’ pada kegiatan tersebut.

Dan inilah kejutan itu…

IMG-20160218-01307                               A chocolate, a flower and a beautiful note…

 

Saat itu aku didaulat untuk membuka catatan tersebut dan membacakannya di depan murid-muridku.

Dan akupun membacakannya sambil terbata-bata, hampir menangis.

Entahlah, selalu terharu bila mendapatkan sesuatu yang tak terduga…

 

Terimakasih murid-muridku,

Love you too…

February 18, 2016

“Maka ni’mat Tuhan manakah yang kamu dustakan…”

Tidak.

Tidak ada ni’mat Allah SWT yang dapat didustakan…

Bulan Januari 2016 adalah bulan dimana saya mendapat kesempatan mengikuti kongres II Ikatan Guru Indonesia (IGI) di kota sejuta pesona, Makassar, Sulawesi Selatan. Tanpa direncanakan, tanpa persiapan.

Mendapatkan Garuda Miles pulang pergi Jakarta-Makassar adalah keni’matan dalam bertransportasi secara gratis. Belum lagi di Makassar bertemu Guru Saudara yang ramah dan baik hati. Guru saudara adalah tempat dimana para guru dari luar kota Makassar menginap. Dengan adanya guru saudara ini diharapkan terjalin hubungan persaudaraan antara guru-guru di Makassar sebagai tuan rumah dengan guru-guru peserta Kongres IGI dari seluruh tanah air. Maka hampir sebagian besar peserta kongres menginap di rumah guru saudara.

Terimakasih IGI, Terimakasih Bapak Dirjen GTK, Terimakasih Garuda, serta teman-teman seperjuangan yang tak dapat disebutkan satu per satu…

Januari 2016

 

Contoh RPP Sistem Saraf

Beberapa minggu lalu, saya berkesempatan mengikuti pelatihan kurikulum tiga belas untuk guru-guru sains se-kota Bandung. Berikut saya berikan satu contoh RPP untuk 1x pertemuan di kelas XI. Tugas pembuatan RPP ini merupakan tugas akhir yang harus dikumpulkan di hari terakhir. Mudah-mudahan bermanfaat…🙂

Matapelajaran : Biologi
Kelas/Semester : XI/2
Materi Pokok : Sistem Saraf
Alokasi Waktu : 2×45’

A. Kompetensi Inti (KI)
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsive dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator
1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang struktur dan fungsi sel, jaringan, organ penyusun sistem dan bioproses yang terjadi pada mahluk hidup.

2.1 Berperilaku ilmiah: teliti, tekun, jujur sesuai data dan fakta, disiplin, tanggung jawab,dan peduli dalam observasi dan eksperimen, berani dan santun dalam mengajukan pertanyaan dan berargumentasi, peduli lingkungan, gotong royong, bekerjasama, cinta damai, berpendapat secara ilmiah dan kritis, responsif dan proaktif dalam dalam setiap tindakan dan dalam melakukan pengamatan dan percobaan di dalam kelas/laboratorium maupun di luar kelas/laboratorium.

3. 3.10 Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem koordinasi dan mengaitkannya dengan proses koordinasi sehingga dapat menjelaskan peran saraf dan hormon dalam mekanisme koordinasi dan regulasi serta gangguan fungsi yang mungkin terjadi pada sistem koordinasi manusia melalui studi literatur, pengamatan, percobaan, dan simulasi.
Indikator:
1. Menunjukkan bagian-bagian neuron dengan menggunakan gambar neuron
2. Menjelaskan proses neurotransmisi dengan menggunakan simulasi
3. Menjelaskan mekanisme penghantaran impuls dengan menggunakan gambar
4. Menjelaskan struktur sistem saraf pusat melalui pengamatan gambar
5. Menentukan gerak reflex yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari
6. Mengumpulkan informasi atau data-data yang berkaitan dengan susunan sistem saraf tepi dari media
7. Menganalisis gangguan sistem saraf pada manusia
8. Menyajikan hasil analisis tentang kelainan pada struktur dan fungsi saraf

 

4. 4.11 Menyajikan hasil analisis tentang kelainan pada struktur dan fungsi saraf dan hormon pada sistem koordinasi yang disebabkan oleh senyawa psikotropika yang menyebabkan gangguan sistem koordinasi manusia dan melakukan kampanye anti narkoba pada berbagai media.

Indikator: __________________ (untuk pertemuan berikutnya).

 

C. Tujuan Pembelajaran

1. Menunjukkan bagian-bagian neuron dengan menggunakan gambar neuron
2. Menjelaskan proses neurotransmisi dengan menggunakan simulasi
3. Menjelaskan mekanisme penghantaran impuls dengan menggunakan gambar

Model Pembelajaran :

Discovery Learning

Metode Pembelajaran : 

  • Diskusi
  • Simulasi (Games)

Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran

  1. Media : Buku, Video, Komputer, LCD
  2. Alat/Bahan : Selotip, Puzzle Sel Saraf , Artikel
  3. Sumber Belajar :

–  Biologi Untuk Kelas XI. Irnaningtyas. Penerbit Erlangga. 2013

– Link videos: http://www.youtube.com/watch?v=aboVLnsCH44

http://www.youtube.com/watch?v=90cj4NX87Yk

http://www.youtube.com/watch?v=-SHBnExxub8

– Powerpoint tentang Sel Saraf dan Mekanisme Impuls Saraf

  1. Pertemuan Kesatu: a.Pendahuluan/Kegiatan Awal (5 menit)
  • Memberikan salam dan berdoa.
  • Menyapa dengan menanyakan kesehatan siswa.
  • Penyampaian tujuan pembelajaran hari itu.

inti1

inti2

 

inti3

c. Penutup (5 menit)

  1. Melakukan umpan balik/refleksi mengenai materi yang telah dikembangkan.
  2. Meminta siswa membaca Sistem Saraf Pusat dan membuat peta konsepnya.
  3. Menginformasikan kepada siswa kegiatan pada pertemuan berikutnya.

d. Penilaian (1)

  1. Jenis/teknik penilaian : Observasi dan Tes Tulis

2. Bentuk instrumen dan instrumen : Instrumen Penilaian Sikap dan Soal Uraian

 

Contoh LKS nya: lks

Referensi: Dari berbagai sumber.

September 2014.

Peresmian Biogas Di SMKN 3 Sukabumi

Alhamdulillah…

Hanya itu yang bisa kami ucapkan ketika acara Peresmian Reactor Biogas dan Scantries Biogas Café usai digelar di SMKN 3 Sukabumi. Semua yang direncanakan berjalan lancar. kepsek sambutan

Kepala Sekolah SMKN 3 Sukabumi memberi sambutan

 Mengapa ada biogas di SMKN 3 Sukabumi?

Jawabnya ada di Sekolah Sobat Bumi Pertamina Foundation.

Pertamina Foundation Sekolah Sobat Bumi (SSB) merupakan inisiatif Pertamina Foundation bersama mitra kerjanya untuk membentuk generasi muda yang peduli pada lingkungan hidup dan alam sekitar. Program Sekolah Sobat Bumi memfasilitasi 17 sekolah Adiwiyata Mandiri yang terpilih menjadi model sekolah umum berbudaya ramah lingkungan sosial, alam dan ekonomi yang mampu membina sekolah dan lingkungan sekitarnya. Sekolah-sekolah tersebut melakukan program tematik yaitu diantaranya energy terbarukan yang terdiri atas ecotransport, bioethanol, picohidro dan biogas. SMKN 3 Sukabumi yang termasuk salah satu dari 17 sekolah model pilihan Pertamina Foundation mengambil program penerapan biogas.

Pengembang Energi Alternatif (PEAL) bertanggungjawab dalam pelaksanaan program energy terbarukan di SMKN 3 Sukabumi. Program yang PEAL laksanakan adalah Biogas For Schools, dengan kegiatan meliputi:

1. Mengenalkan sumber energy biomassa berupa biogas.

2. Program pembelajaran, kampanye dan praktek penggunaan teknologi biogas di lingkungan Sekolah Sobat Bumi Champion yang digunakan sebagai sumber energi terbarukan.

3. Pembangunan Reaktor biogas yang digunakan sebagai penghasil gas bakar dari sampah organik yang dihasilkan di lingkungan sekolah serta keluarannya berupa cairan dan padatan digunakan sebagai pupuk organik di lingkungan sekolah.

4. Lokakarya, lomba-lomba dan kampanye penggunaan teknologi biogas sebagai pengolah sampah organik dan sumber energi terbarukan di sekolah binaan.

Keterlibatan warga sekolah dan komunitas diharapkan dapat memelihara keberlanjutan manfaat biogas di sekolah. Duta energy yang dibentuk memiliki tanggungjawab untuk mensosialisasikan manfaat biogas kepada pihak lain. Oleh karena itu dibentuklah struktur organisasi biogas di sekolah. Mereka memiliki tempat sebagai pusat pembelajaran biogas yang diberi nama Scantries Biogas Café.

Pada hari Jumat, tanggal 20 Juni 2014, peresmian reactor biogas dan Scantries Biogas Café diresmikan oleh Wali Kota Sukabumi, H. Mohamad Muraz, S.H., M.M., yang dihadiri oleh Kepala-kepala dinas terkait serta perwakilan dari Pertamina Foundation, Bapak Lendo Novo (Direktur Lingkungan Hidup Pertamina Foundation).

walkot sukabumi sdg masak menggunakan biogas

Bapak Wali Kota Sukabumi sedang mencoba memasak menggunakan gas bio

ramah tamah

Ramah tamah dengan hidangan tradisional yang telah dimasak menggunakan gas bio

???????????????????????????????

Scantries Biogas Cafe- Biogas Centre SMKN 3 Sukabumi

tim scantries

Tim kreatif Scantries Biogas Cafe

Terima kasih kepada Pertamina Foundation, Pertamina Sekolah Sobat Bumi yang telah memberikan dukungan finansial serta kepercayaan sehingga gas bio akhirnya dapat hadir di tengah-tengah pelajar SMKN 3 Sukabumi. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membuat acara peresmian berjalan sukses.

Semoga sustain dan bermanfaat.

Video tertimoni Duta energy biogas

Surat Untuk Bapak-bapak bergelar Kiai Haji (KH), Ulama dan Ustad yang tergabung dalam Deklarasi Anti Syiah…

Assalamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakaatuh…

Kepada yang saya hormati:
Bapak-bapak bergelar KH, Ulama dan Ustad yang tergabung dalam pertemuan Deklarasi Anti Syiah, 20 April 2014.

Semoga rahmat dan karunia Allah senantiasa tercurahkan kepada kita semua…

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada bapak-bapak sekalian, ijinkan saya menulis surat terbuka ini untuk mencurahkan apa yang ada dalam pikiran saya. Saya bukan hendak menggurui, meskipun saya saat ini berprofesi sebagai guru di sekolah yang bapak-bapak anggap sesat itu. Saya hanya prihatin dan sedih ketika membaca hasil pertemuan bapak-bapak sekalian yang akhirnya membentuk LPAS (Laskar Pemburu Aliran Sesat). Jika aliran sesat yang bapak-bapak maksud adalah yang diusung oleh Ustad Jalaluddin Rakhmat, maka ijinkan saya untuk mencurahkan pandangan saya sebagai orang awam di sini.

1. Saya mungkin TIDAK HAFAL dalil-dalil atau ayat-ayat Al-Quran maupun Hadist yang menjadi dasar bagi bapak-bapak untuk membentuk LPAS, yang katanya untuk membubarkan ajaran Syiah. Namun, yang saya HAFAL selama kurang lebih 15 tahun mengajar di sekolah yang bapak2 anggap sesat itu adalah bahwa setiap hari saya mendengar shalawat yang diucapkan baik oleh siswa-siswi maupun guru-gurunya.
#Pengamalan QS Al Ahzab: 56 yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. Lalu, di mana letak menghina Nabi nya, ya?

2. Saya mungkin TIDAK TAHU latar belakang apa yang membuat bapak-bapak begitu membenci Ustad Jalaluddin Rakhmat (jika memang ada unsur kebencian di dalamnya). Namun yang saya TAHU adalah bahwa sekolah yang diprakarsai oleh Ustad Jalal mengajarkan cinta dan kasih sayang pada 4 hal, yaitu:
1. Cinta kepada Allah Swt
2. Cinta kepada Rasulullah dan keluarganya
3. Cinta kepada Orangtua
4. Cinta kepada kaum yang lemah (mustadh’afin).

Salah satu implementasi point ke-4 adalah melalui program tahunan yang disebut SWC (Spiritual Work Camp). Apa itu SWC? Spiritual Work Camp adalah program Dirasah Islamiyah bagian dari kurikulum SMA Plus Muthahhari. Sesuai dengan visi dan misinya yaitu pembinaan akhlak dan meraih cinta Ilahi dengan berkhidmat dan mengabdi kepada masyarakat. Melalui program ini diharapkan murid-murid dapat mengambil ‘itibar (pelajaran) dari apa yang didapat dari kehidupan di tengah-tengah masyarakat terutama masyarakat kecil di pedesaan.
#Upaya pengamalan QS Al Baqarah: 177: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Jika ingin tahu kesan apa saja yang diperoleh siswa selama mengikuti SWC, dapat dibaca di sini:
http://reginabcd.blogspot.com/2012/06/spiritual-work-camp.html
http://theseptember30th.blogspot.com/2008/08/spiritual-work-camp.html
http://activitiesinsmuth.weebly.com/1/post/2013/06/hikmah-swc.html

3. Saya juga mungkin TIDAK PERNAH BELAJAR ilmu agama atau bahasa Arab di universitas-universitas terkenal di Mesir, Turki atau Arab Saudi seperti yang bapak-bapak pernah pelajari. Namun yang saya rasakan, saya BANYAK BELAJAR tentang bagaimana menghormati perbedaan selama saya berada di lingkungan yang bapak-bapak anggap sesat itu. Saya juga belajar bagaimana berempati. Kalau bapak-bapak lupa apa arti empati, berikut saya kutipkan dari wikipedia makna empati menurut Hodges, S.D., & Klein, KJ. Empati yaitu kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain. Dalilnya dalam Al Quran, saya yakin bapak-bapak lebih mengetahuinya…

4. Saya juga mungkin tidak tahu apa yang terjadi dengan saudara-saudara muslim saya di luar sana yang, katanya, ada yang hilang atau terjebak dalam nikah kontrak. Namun yang saya pernah tahu adalah bahwa dalam aliran atau agama apapun juga, yang namanya oknum atau pelaku perbuatan buruk itu pasti ada. Yang menyalahgunakan agama, mengatasnamakan agama, tak peduli itu haram atau menyengsarakan orang lain, agar keinginannya tercapai, itu pasti selalu ada.

Ini baru sebagian kecil pelajaran yang saya peroleh dari lingkungan yang oleh bapak-bapak dianggap sesat itu…

Dengan menulis ini mungkin saya dianggap ‘menyebarkan’ ajaran yang oleh bapak-bapak dianggap sesat itu. Namun saya lebih suka disebut jika saya berusaha menyebarkan persatuan dan kesatuan serta perdamaian di negeri yang sama-sama kita cintai ini. Jika bapak-bapak takut bahwa Indonesia bisa jadi akan menjadi seperti Irak, Suriah, Yaman dan negara-negara di Timur Tengah yang telah diacak-acak oleh mereka yang tidak suka melihat umat Islam bersatu, maka saya lebih takut lagi jika LPAS yang bapak-bapak bentuk akan membuat kerusuhan dan kerusakan dimana “penindasan diubah menjadi cara meraih pahala dan surga; pembunuhan, penjarahan dan semua tindakan yang menurut standar logika adalah baik, menjadi kebiadaban seperti yang terjadi di Madura dan Jember, Jawa Timur beberapa tahun lalu”. Dan saya akan lebih takut lagi jika umat Islam hanya berkutat dalam lingkaran setan masalah perbedaan mazhab, namun tidak peduli jika umat Islam tidak membaca… (silahkan baca link ini: http://satriadharma.com/2014/04/19/kenapa-orang-indonesia-luar-biasa-sedikit-alias-tidak-membaca-buku/#more-935)

Sekali lagi, mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada bapak-bapak yang saya hormati, yang gelarnya sudah saya sebut di atas, jika saya dianggap lancang…

Jika bapak-bapak meyakini bahwa Allah-lah yang Kuasa membolak-balikkan hati, Allah-lah yang memberi petunjuk/hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki, sehingga tidak sedikit kita lihat ada manusia yang tadinya preman bisa tiba-tiba berubah menjadi beriman, ada yang tadinya kafir lalu seketika meyakini bahwa Rasul Muhammad saw adalah Nabi terakhir, lantas untuk apa caci maki dan cela terhadap orang lain yang “terlihat kurang sejalan”, “terlihat kurang sependapat”, dan “terlihat sedikit berbeda” kita lontarkan?

Rasanya melelahkan jika tujuan hidup hanya untuk mencari-cari kesalahan orang lain atau memelihara benci dalam hati. Sementara orang-orang yang tidak suka melihat umat Islam berpegangan tangan, semakin maju menguasai dunia serta ilmu pengetahuan…Kenapa kita tidak berlomba-lomba saja dalam kebaikan?

Demikian surat ini saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada kesalahan tulisan ataupun penafsiran. Terimakasih sudah berkenan membaca…

Wassalamu’alaikum W.W.

Bandung, 21 April 2014

Dari seorang ibu, guru dan hamba Allah yang cinta damai…

Menerjemahkan Kurikulum 2013 Pada Sub Pokok Bahasan Tumbuhan Berbiji

Tahun pelajaran 2013/2014, kelas X harus sudah menerapkan kurikulum 2013. Terus terang, ketika mendengar dan mengikuti sosialisasinya, saya tidak terlalu antusias. Maaf, bukan bermaksud nyombong, bukan itu. I hate myself when I say this. Tetapi, beberapa contoh yang dipaparkan oleh penyaji sudah pernah saya terapkan sebelumnya saat menggunakan KTSP. Lalu, dalam hati saya bertanya, kalau begitu apanya yang baru ya dari kurikulum yang disebut baru itu…?

Oh, ternyata administrasinya yang ribet, ‘ruwet’ dan panjang. Sungguh tidak cocok bagi saya yang ‘malas’ ini heheh… Kenapa ya, administrasi guru tidak dibuat sesederhana mungkin? Guru tugasnya kan mengajar, dan mencari cara bagaimana siswa siswinya mengerti/paham apa yang disampaikan juga agar mereka senang dalam belajar…

Kurikulum 2013 menurut saya penuh idealisme. Tapi apakah itu salah? Saya pikir, janganlah apriori dulu. Mungkin kesannya seperti dibuat tergesa-gesa, tapi cobalah kita melihat dari sisi positifnya. Pemerintah sudah menyiapkan standar-standarnya. Guru tinggal mengembangkannya dalam bentuk rencana pembelajaran. Mungkin perlu penyempurnaan di sana sini. Dengan masukan dari guru-guru pelaksana di lapangan, semestinya kurikulum 13 semakin baik, bukan semakin ngawur. Apalagi jika dalam penerapan kurikulum 13 masih ada Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Padahal katanya menerapkan kurikulum yang dari segi relevansinya ‘bertujuan untuk menyiapkan peserta didik yang siap untuk hidup dan bekerja dalam masyarakat”…

Kalau boleh saya usul, guru jangan terlalu dibebani oleh tugas-tugas administratif yang njelimet dan memakan kertas berlembar-lembar. Apalagi jika gagasan profesor Habibie diterapkan. Kita harus bersiap untuk tidak menggunakan kertas yang bertumpuk-tumpuk lagi. Dengan membawa rencana pembelajaran ke kelas berisi tujuan, metode, kegiatan sampai ke penilaiannya yang jelas, saya pikir sudah cukup. Karena untuk menilai siswa juga membutuhkan teknik dan waktu yang tidak sebentar. Apalagi jika guru merangkap dengan melaksanakan tugas-tugas tambahan lainnya…hmm…capek deh…

Kembali ke inti tulisan ini. Saya hanya ingin berbagi sedikit pengalaman saja. Mungkin ini bukan yang terbaik. Tapi setidaknya bisa memberikan inspirasi (mungkin) bagi teman-teman guru. Inilah upaya saya ‘menerjemahkan’ kurikulum 2013 pada materi tumbuhan berbiji, mata pelajaran Biologi kelas X.

Kompetensi Dasar:
3.7 Menerapkan prinsip klasisfikasi untuk menggolongkan tumbuhan ke dalam divisio berdasarkan pengamatan morfologi dan metagenesis tumbuhan serta mengaitkan perannya dalam kelangsungan kehidupan di bumi.
4.7 Menyajikan data tentang morfologi dan peran tumbuhan serta berbagai aspek kehidupan dalam bentuk laporan tertulis.

Tiba pada materi tentang Kindom Plantae, saya berpikir. Dengan Kompetensi Dasar seperti di atas, apa kira-kira inti kompetensinya ya? Ah, ya. Saya akan coba untuk mengaitkan peran tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa sebaiknya menyajikan data tentang morfologi dan peran tumbuhan dalam bentuk laporan tertulis. Maka mulailah saya untuk membuka sub-pokok bahasanTumbuhan Berbiji dengan aktivitas di bawah ini. Saya tidak menuliskan secara rinci rencana pembelajarannya. Di sini hanya berbagi aktivitas/kegiatan yang bisa dilakukan untuk materi tersebut. Untuk rencana pembelajarannya bisa disesuaikan dengan kondisi dan potensi sekolah masing-masing.

Pokok Bahasan: Kingdom Plantae
Sub-pokok bahasan: Tumbuhan Berbiji (Spermatophyta)

Pertemuan ke-1 dari sub-pokok bahasan tumbuhan berbiji. (Dua pertemuan sebelumnya telah dijelaskan tentang tumbuhan lumut dan paku-pakuan)

Kegiatan 1: Siswa melakukan pengamatan di halaman sekitar sekolah. Melalui Lembar Kerja yang telah disiapkan, setiap kelompok mendata tumbuhan yang ada dengan cara mengamati akar, batang, daun, bunga dan habitatnya. Setiap individu/kelompok mencari 4 tumbuhan yang berbeda.

Pertemuan ke-2
Kegiatan 2: Siswa secara individual melakukan klasifikasi dari beberapa contoh tanaman hasil pengamatan sebelumnya. Siswa mengamati tumbuhan yang disediakan oleh guru. Siswa mengamati ciri morfologi dan membuat taksonomi dari beberapa tumbuhan tersebut dan disajikan dalam bentuk tabel pengamatan morfologi tumbuhan.

Pertemuan ke-3
Kegiatan 3: Siswa dalam kelompok membuat Daftar Kartu Pohon. Aktivitas ini untuk mengaitkan peran tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kartu pohon memuat data tentang: nama pohon, tingginya, penyebaran, buahnya, ciri2 lainnya, fungsi/manfaatnya. Disertai dengan sketsa/gambar pohonnya.

Pertemuan ke-4
Kegiatan: pada pertemuan keempat ini, siswa dalam kelompok diberi gambar bentang darat. Pada gambar bentang darat itu siswa diminta untuk menentukan tumbuhan/pohon apa yang cocok untuk ditanam di daerah atau lingkungan yang ada dalam gambar. Sketsa gambar pohon yang telah dibuat siswa sebelumnya, bisa ditempelkan dalam gambar bentang darat tersebut.

Terakhir, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya dan dilakukan diskusi kelas.

Semoga bermanfaat.