Mengajar di Kelas Yang Beragam

Just because you see it that way doesn’t mean everyone does

Just because you learn best that way doesn’t mean everyone does

Just because you like it that way doesn’t mean everyone does

                                                                                    (anonym)

 

class2 

Saat ini para guru dan pengelola sekolah dihadapkan pada tantangan yang sangat hebat: bagaimana mempersiapkan siswa untuk menghadapi masyarakat global dan teknologi secara efektif. Keberagaman kemampuan siswa sebagaimana juga keberagaman kecerdasannya, hadir di ruang kelas kita. Hal ini berarti guru harus mempersiapkan pengajaran yang kompleks.   Pengajaran yang kompleks bersifat komprehensif dan melibatkan tersedianya bahan-bahan pengajaran, sumber, dan instrumen penilaian.

Pendekatan-pendekatan baru dalam pembelajaran digulirkan dalam upaya untuk menyingkirkan kesulitan-kesulitan dalam pengajaran sains dan memuaskan kebutuhan siswa. Hal ini didasarkan pada teori-teori pembelajaran yang mempertimbangkan perbedaan-perbedaan dalam individu. Salah satunya adalah teori Multiple Intelligences yang diusulkan oleh Howard Gardner tahun 1983. Teori ini bertanya : “Kita telah diberikan pengetahuan tentang otak, evolusi serta perbedaan dalam budaya, kemampuan manusia apa yang bisa kita bagi bersama?”. Dalam teorinya, Gardner memperluas ruang lingkup potensi manusia melebihi batas-batas nilai tes IQ. IQ sendiri saat ini bukan ukuran untuk sukses; hanya 20% sisanya ditentukan oleh kecerdasan emosi, social dan keberuntungan (Goleman, 1995 dalam Ozdemir, et al., 2006).

 

 

Meskipun teori Multiple Intelligences dikritik mengenai latar belakang teoritis, konseptual, empiris dan pedagogisnya oleh beberapa akademisi, namun salah satu kekuatan terbesarnya adalah memberikan kerangka bagi para guru untuk mengeksplorasi gaya mengajar dan membantu guru dalam membuat keputusan tentang cara-cara menyusun pengajaran dan pengalaman belajar siswa. Teori Howard Gardner pun membuka jalan dan kesempatan untuk penelitian dan evaluasi selanjutnya. Penelitian kuantitatif yang dilakukan di sekolah Maryland di Amerika Serikat menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan dengan menggunakan Multiple Intelligences meningkat 20% dalam ujian standardisasinya (Greenhawk, J., 1997).

Dalam upaya membantu perkembangan siswa, perbedaan individu dan kecerdasan harus disampaikan sementara di sisi lain guru juga harus berupaya untuk mencapai standar nasional. Lalu, bagaimana menyiasatinya?

Tidak mudah memang. Guru yang dihadapkan pada kelas dengan siswa yang heterogen perlu upaya ekstra dan kreatifitas untuk menerapkan strategi pembelalajaran yang dapat merangkul semua siswa. (Saya membayangkan berada di dalam kelas yang homogen dan berfikir konvergen. Terlihat siswa-siswa berwajah tegang dan kaku. Tak ada tawa dan keceriaan.  Mungkin saja mereka berhasil dalam bidang akademis akan tetapi berhasilkah mereka dalam emosi dan sosialnya? Meminjam pertanyaan Gardner saya juga bertanya: kemampuan apa yang bisa dibagi oleh siswa secara bersama-sama?).

 Barangkali beberapa pernyataan di bawah ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua:

  • Penelitian otak dan pembelajaran memberi banyak bukti yang menunjukkan bahwa masing-masing individu belajar dengan cara yang tidak sama. Jika kita mewajibkan siswa menerima informasi dengan cara yang tidak sesuai dengan cara belajarnya, atau untuk menunjukkan hasil belajar dengan tidak memberikan kesempatan bagi mereka menggunakan kekuatan/kelebihannya, maka stress artificial terbentuk, motivasi menurun, dan hasil kinerja rendah.
  • Salah satu jenis pengalaman belajar yang kaya adalah menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil dan diberi problem solving, menantang, dan berkaitan dengan dunia nyata. Dalam kelompok, tugas siswa disusun sekitar tema-tema sentral yang dapat dipelajari dengan cara berbeda dan membutuhkan berbagai macam kemampuan
  • Siswa sebaiknya diberikan pilihan-pilihan dan didorong untuk mendiskusikan emosinya serta mendengarkan perasaan orang lain. Siswa sebaiknya diberi tantangan untuk mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban yang masuk di akal. Games, simulasi, bermain peran, field trip, tarian, seni dan musik harus dimasukkan ke dalam kurikulum dan didukung secara financial oleh komunitas sekolah.
  • Guru harus membantu siswa memahami makna dari informasi. Siswa diberi kesempatan meneliti dan memahami sudut pandang berbeda dalam literature, sejarah dan isu-isu terbaru. Lingkungan kelas harus dihidupkan dengan saling hormat dan saling menerima.
  • Para guru sebaiknya menerima perkembangan yang komprehensif dalam penelitian dan metode-metode pengajaran guna memajukan belajar yang optimum bagi seluruh siswa. Sama pentingnya adalah guru juga harus diberi wewenang untuk mengembangkan pengetahuan dasarnya sehingga memperluas pemahaman mereka tentang pengajaran dan pembelajaran. Memberikan waktu bagi guru untuk merencanakan rencana pembelajaran yang kompleks, berbagi ide, serta berefleksi pada kurikulum serta pembelajaran siswa merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan komunitas pelajar yang efektif.

 

Pemikiran terakhir:

Sebagai siswa, belajar sebaiknya tidak selalu harus dengan cara

kalian sendiri, karena kalau begitu, belajar kalian akan terasa berat.

 

 

By : Rika W. Sukmana

(Dari berbagai sumber)

 

 

    

Referensi :

 

Greenhawk, J. (1997). Multiple Intelligences Meet Standards. Educational Leadership. (September) 62-66.

 

Krajcik, J., Blumenfeld, P., Marx, R., & Soloway, E. (1994). A Collaborative Model for Helping Middle Grade Science Teachers Learn Project-based Instruction. The Elementary School Journal. (May) vol. 95, no. 5, 483-497.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s