Leuit (arek) leungit di handapeun langit??

Judul di atas terucap oleh salah seorang kolegaku ketika kami melakukan observasi rumpun di Baduy Luar beberapa waktu lalu. Frau Nur, begitu kami memanggilnya. Namun saya modifikasi menjadi sebuah pertanyaan…(thanks Frau!)

—-

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujuraat: 13)

Salah satu tujuan umum kegiatan observasi rumpun di sekolah kami yaitu memberikan pengalaman pada siswa yang tidak dapat dikerjakan di sekolah, namun demikian merupakan bagian integral dari pengetahuan umum yang berharga bagi mereka. Meski observasi hanya dilakukan kurang dari 2 hari, mungkin hanya sedikit yang diperoleh. Namun kami berharap catatan mereka akan panjang, karena banyaknya pertanyaan yang belum terjawab…

Observasi rumpun tahun ini berbeda dengan 4 tahun lalu. Tahun ini, siswa disebar di 3 kampung. Kelas X di Balingbing, kelas XI di Gazeebo dan Kelas XII di Cicakal Buleud. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang didampingi oleh seorang pembimbing. Di lokasi observasi, setiap kelompok harus melakukan pengamatan dan mengumpulkan data tentang salah satu objek kajian. Objek kajian mereka diantaranya tentang cara pembuatan jembatan di Baduy, sistem kekerabatan, teknik berladang, sistem kepercayaan, dan lain sebagainya. Hasil observasi kelompok dituangkan dalam bentuk laporan karya ilmiah.

Nah, salah satu yang menarik perhatian kami saat berjalan-jalan menemani siswa melakukan observasi yaitu ketika mendapati sebuah bangunan kecil. Ternyata itu adalah Leuit, tempat penyimpanan padi yang disimpan dalam bentuk gabah. Kami bertanya-tanya, bagaimana cara mereka memasukkan gabah ke dalamnya, kan tidak berpintu?? Selidik punya selidik, ternyata ‘pintunya’ terletak di atas. Ukurannya bukan seperti bentuk pintu biasa. Mungkin lebih tepat mirip ukuran sebuah jendela.

Gambar 1. Salah satu Leuit

Masyarakat Baduy merupakan masyarakat yang menganut pola hidup sederhana. Secara mandiri mereka berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Termasuk kebutuhan pangan. Kebutuhan pangan mereka dipenuhi dengan 2 cara, yaitu pertama dengan menanam padi di ladang (ngahuma) setahun sekali, hasilnya disimpan di Leuit (lumbung padi)

sebagai cadangan atau persiapan bila suatu saat terjadi bencana alam yang mengakibatkan kekurangan pangan. Kedua, untuk memenuhi kebutuhan pangan/makan sehari-hari, mereka membeli beras dan kebutuhan lainnya dari para pedagang di sekitar tempat mereka tinggal.

Seiring dengan derasnya perkembangan zaman, dan kebutuhan, komunitas suku Baduy pun tidak bisa menghindari adanya perubahan. Perubahan pola hidup terlihat dengan jelas dalam kehidupan sehari-hari terutama di Baduy Luar. Secara perlahan, di setiap kampung sudah muncul warung-warung kecil yang menyediakan berbagai kebutuhan hidup. Pola hidup konsumtif yang berorientasi pada pemenuhan untuk mendapatkan uang sebagai alat tukar yang praktis kini sudah menjalar ke komunitas Baduy Dalam.

Lantas, apakah Baduy sekarang sedang menjalani proses modernisasi?

Terjadinya perubahan sikap dan mental ke arah modern sudah disadari sejak lama oleh para tokoh adat Baduy. Mereka menyadari bahwa suatu saat masyarakat Baduy tidak dapat menghindar dari pengaruh-pengaruh modernisasi itu. Berikut kutipan (terjemahan) salah seorang tokoh adat Baduy yang tertulis dalam buku “Saatnya Baduy Bicara”:

Sejak awal kami sudah waspada dan menyadari bahwa zaman pasti berubah, tantangan buat masyarakat adat semakin hari semakin berat, dari berbagai perkampungan perbatasan sudah tidak terbendung lagi oleh kemajuan pola dan gaya hidup, tetapi kami (warga Baduy) tetap teguh patuh untuk melaksanakan amanat wiwitan dan kami tetap meyakini bahwa Baduy aman tenteram, yang penting jangan mengganggu atau diganggu dan jangan merugikan apalagi dirugikan. Kami (Baduy) siap bekerjasama dengan siapapun, tetapi yang ada manfaat demi keselamatan hidup semua manusia, kami tetap akan patuh mengikuti hukum dan kehendak alam yang sudah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa” (hal. 12-13).

Pada dasarnya manusia saling tergantung satu sama lain, tidak dapat hidup sendiri karena kita berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat lainnya. Setiap manusia baik secara individu maupun kelompok memiliki pemikiran, ide, keinginan, cita-cita, gagasan, harapan, serta potensi dan kompetensi untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Perubahan yang mendera masyarakat Baduy tentunya sesuai dengan kebutuhan dan pilihan. Jangan sampai nilai-nilai luhur mereka dalam memelihara keseimbangan dan keharmonisan alam semesta tergerus oleh pilihan perubahan ke arah yang salah. Semoga saja, leuit teu jadi leungit di handapeun langit…

Pepatah Baduy untuk memelihara alam:

Gunung teu meunang dilebur

Lebak teu meunang diruksak

Buyut teu meunang dirobah

Larangan aya di darat di cai

Gunung aya maungan, lebak aya badakan

Lembur aya kokolotan, leuwi aya buayaan

Akhirnya, potongan catatan kecil ini saya tutup dengan hanca saya pagi ini:

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”. (QS. Asyu’araa: 183).

Semoga bermanfaat.

@rika.

3 thoughts on “Leuit (arek) leungit di handapeun langit??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s