Pendidikan Ala Koboi?

Hari Kamis sore lalu…Aku melihat beberapa murid kelas XII duduk bergerombol. Ada yang duduk di lantai halaman parkir sekolah. Ada juga yang duduk di kursi kantin dan pos satpam. Aku melihat wajah-wajah murung menatap alas bumi…Beberapa menit sebelumnya mereka usai mendapat pengarahan tentang UN (sosialisasi UN) dan menandatangani lembar kejujuran. ..

 “Hei, cheer up! Kenapa pada murung begitu?”, sapaku pada mereka. 

Salah satu dari mereka menjawab dengan senyumnya yang khas, “Galau bu. Galau mau UN…”
“Do’akan kami ya buuu…”
Yang lainnya menjawab dengan hal serupa, “Galau karena deg-degan bu…”

Hmm…terus terang, sepanjang perjalanan pulang, dalam pikiranku masih terbayang wajah-wajah muridku yang tadi terlihat murung. Padahal mereka adalah murid-murid yang berada di urutan 10 besar. Lalu saya ‘menduga-duga’ penyebab sebenarnya dari kemurungan mereka.

Ujian Nasional. Lagi. Lagi-lagi Ujian Nasional.

Tulisan ini hanya sebatas pendapat pribadi saja. Bisa mengandung unsur kebenaran bisa juga tidak. Saya hanya merasa ikut murung dengan kemurungan murid-murid saya itu. Bukankah seharusnya tahap akhir dari fase kehidupan mereka di SMA dijalani dengan gembira? Mengapa UN malah membuat mereka murung?

Mereka galau bukan karena belum siap menghadapi UN. Kami telah mengadakan beberapa kali try out, pemantapan, dan sejenisnya dari semester 5. Saya tahu keseharian dan kemampuan akademis mereka.  Mungkinkah karena lembar surat kejujuran yang telah mereka tandatangani itu? Atau kelelahan yang memuncak setelah berbulan-bulan menyelesaikan berbagai macam tugas persyaratan untuk lulus dari sekolah?

Mereka yang sudah siap bisa menghadapi UN dengan kepercayaan diri tinggi, tapi bagaimana dengan teman-teman mereka seangkatan yang selama ini jarang mengikuti pemantapan, bermasalah dengan kehadiran, dan kurang secara kognitif dalam mata pelajaran yang  di-UN-kan?  Aku tahu solidaritas setiap angkatan sangatlah tinggi. Ibarat satu tubuh. Jika ada anggota tubuh yang sakit atau terluka, maka seluruh badan ikut merasakan sakit.

Lalu, siapa yang harus disalahkan? Mengapa UN menjadi perdebatan panjang? Secanggih apapun perdebatan dan kajian tentang mudharatnya UN, pemerintah keukeuh sureukeuh mempertahankan UN. Bahkan tahun depan soalnya akan lebih sulit.

Yang menjadi pertanyaan dalam benak saya: apa focus pendidikan ini sebenarnya? Dengan adanya UN sebagai penentu kelulusan, proses pembelajaran yang selama ini menyenangkan, inovatif dan kreatif seolah tidak ada artinya. Bukankah proses itu yang penting? Tes, alat evaluasi atau apapun itu namanya hanyalah sebagai alat ukur saja. Mengutip pendapat pak Edi Subkhan, “UN ibarat mistar untuk mengukur tinggi seorang anak. Mistar sebagai alat ukur tidak dapat meninggikan tubuh anak”. Kualitas pendidikan tidak dapat diklaim sudah baik hanya dengan naiknya standar UN.

Hasil analisis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan diantaranya adalah peran guru, peran otonomi sekolah, peran kepala sekolah, peran kurikulum, dan peran kebebasan dalam memilih buku teks pelajaran. Masih banyak sekolah yang belum terstandarisasi. Masih banyak guru yang belum sejahtera. Masih banyak sekolah yang belum memiliki fasilitas yang memadai. Tapi di akhir, semua harus disamakan. Sehingga apa yang terjadi? Banyak yang mengambil cara instan demi mengejar sebuah nilai kelulusan, mulai dari jual beli soal hingga minum air panteguhan.

Jangan sampai system pendidikan di negeri ini selamanya ala koboi. Ingin cepat berlari, tapi dengan menyakiti rakyatnya sendiri…😦

18 April 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s