Idealisme Guru

Pada suatu acara talkshow di salah sebuah stasiun televisi, ada yang bertanya pada pembicara: Apa beda korupsi zaman orde baru dengan era reformasi saat ini? Pembicara menjawab bahwa bedanya adalah korupsi era orde baru ada yang mengkoordinir, seperti satu kepala dengan banyak tangan. Sedangkan korupsi era reformasi saat ini tidak terkoordinir, masing-masing individu melakukan korupsi. Artinya banyak kepala dengan dua tangan. Lantas, saya pun bertanya: apa beda ’kecurangan’ UN tahun ini dengan ’kecurangan’ UN tahun-tahun sebelumnya? Jawabnya: tidak jauh berbeda dengan ilustrasi korupsi di atas.

Tahun lalu pemerintah mengatakan bahwa persentase kelulusan siswa meningkat. Tahun ini dijamin pernyataan pemerintah gak akan jauh berbeda. Meningkat kecurangannya, jelas. Aku kecewa dengan sistem pendidikan di negeri ini. Meskipun sekarang dikatakan bahwa yang menentukan kelulusan adalah sekolah, bukan ujian nasional (saja), tapi lihatlah apa yang ditinggalkan dari perhelatan besar itu. Ketidakpercayaan diri guru maupun siswa, jual beli kunci jawaban, ‘tim sukses’ sebagai nama lain dari ‘guru membantu menjawab ujian siswa’, dan sebagainya. Mau dijadikan apa sebenarnya anak-anak didik kita?

http://philip9876.com/category/students/(source picture: http://philip9876.com/category/students/)

Guru memang pelaku sekaligus juga korban dari sistem sehingga tugas guru pada akhirnya adalah untuk membuat siswa lulus, bukan membuat siswa pintar luar dalam. Jika tugas guru hanya untuk meluluskan siswa mungkin tugas ke ‘atasan’ selesai, tapi bagaimana nanti mempertanggungjawabkannya ke ‘atas’? Padahal kesuksesan ditentukan lebih banyak oleh sikap atau afeksi, bukan oleh kognisi.
Aku yakin, masih banyak guru-guru ideal di belahan bumi Indonesia lainnya yang sepemikiran denganku. Mereka yang berdoa memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk mendidik anak-anak agar mereka lulus. Berusaha keras melalui proses pembelajaran agar anak-anak memiliki moral yang baik.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memperhatikan guru. Lihatlah Jepang ketika pertama kali merdeka, yang ditanyakan pertama kali oleh pemimpinnya pada saat itu adalah berapa jumlah guru. Di Indonesia, guru dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, jangan heran jika mengapa korupsi sulit diberantas, sogok menyogok masih menjadi realitas dan rasa percaya diri bangsa semakin amblas…

Barangkali pemerintahan masa datang akan lebih baik? Mari bertanya pada rumput yang bergoyang. Jawab rumput: sayang, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu yang melayang-layang…

Hari terakhir UN, 24/04/09.

by : Rika W. Sukmana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s