Be careful, girls…

Di travel, dalam perjalanan pulang dari Jakarta….

Aku duduk di jajaran ke 2 dari belakang. Paling belakang, duduk seorang wanita mungkin sekitar usia 20an, dan 2 orang laki-laki setengah baya. Yang wanita duduk di pojok kanan, persis di belakangku. Yang mau aku ceritakan adalah laki-laki setengah baya yang duduk di tengahnya.

Sepanjang perjalanan, laki-laki tersebut berbicara melalui telepon genggamnya dengan seseorang. Bolak balik dia bicara dengan jeda beberapa menit, membicarakan tentang pembelian Ipad, handphone dan sejenisnya.
Sepertinya dia mau membeli barang-barang elektronik itu. Aku yang di duduk di depannya saja merasa terganggu dengan suara kerasnya, apalagi kedua orang yang duduk di sampingnya, pikirku. Setengah perjalanan dari Jakarta hingga berhenti di kilometer tertentu, baru dia berhenti menelepon.

Ketika mau turun untuk istirahat, aku mendengar dia mengajak wanita di sebelahnya. Seperti yang sok akrab “Ayo, turun kita makan yuk.”
Perempuan itu menolak, “gak terimakasih”. Laki-laki itu terus mendesaknya untuk mau turun, dan perempuan itu jawabannya masih tetap sama. Ada mungkin 5-7 kali perempuan itu menolak untuk tidak turun. “Ya udah, saya duluan ya…”.

Setelah 10 menit istirahat, seluruh penumpang sudah duduk di kursi masing-masing, tinggal laki-laki yang ‘banyak bicara’ itu.  Kurang lebih 5 menit kami menunggunya.

Setelah naik, kembali aku mendengar dia bicara. Kali ini bukan di telepon, tetapi dengan perempuan yang duduk di sebelah kanannya.

Dari pertanyaan-pertanyaan yg diajukan laki-laki itu ke perempuan sebelahnya, aku bisa menduga, mereka belum kenal satu sama lain.
Mulai dari pertanyaan:
1. tinggal di mana?
2. kerja di mana?
3. sudah berapa lama kerja?
4. namanya siapa?
5. mau kemana?
6. alamat rumah di mana?

Semua pertanyaan di atas dijawab oleh perempuan tersebut.
Hey, girl. Waspadalah, pikirku dalam hati. Ingin rasanya aku memberi kode pada dia agar ‘hati-hati’, ‘hati-hati’…Namun akibat rasa lelah, antara sadar dan tidak, membuatku hanya mendengarkan saja obrolan keduanya.

“Eh, nomor pin BB-mu berapa?”, adalah pertanyaan berikutnya dari laki-laki itu. Dan perempuan itu pun menyebutkannya…
Hmmmm….

Setelah itu, tidak lama, aku tak mendengar percakapan antara keduanya. Ketika kutengok ke belakang, laki-laki itu sedang tertidur pulas dengan kepala miring ke sebelah kanan, tapi tidak sampai nangkring di pundak perempuan itu…

______
Kenapa aku menceritakan semua ini?
Apa peduliku dengan pembicaraan orang lain?
Mengapa juga dipikirin obrolan keduanya?

Dari gaya bicara laki-laki itu, juga penampilannya, aku pikir, yang namanya perempuan harus pintar-pintar untuk waspada.

Aku menyayangkan, mengapa perempuan itu mudah sekali memberikan alamat, nomor pin, dan identitas lainnya kepada laki-laki yang baru saja dikenalnya saat itu.  Sekarang, ada rasa sedikit sesal, mengapa tidak jadi kucatat juga pin BB-nya. Siapa tahu bisa jadi saudara, sekalian memberikan peringatan untuk selalu waspada dan hati-hati dengan laki-laki asing…

Ketika masih menjadi mahasiswa dulu, aku sempat mendirikan lembaga di bawah sebuah yayasan yang didirikan bersama sahabat-sahabat SMA. Namanya L-Siwak, Lembaga Studi Ibu, Wanita dan Anak. Misi utamanya adalah pada pemberdayaan dan pembekalan untuk anak-anak, remaja putri…

Dan sekarang, setelah kejadian di atas, serta maraknya fenomena penculikan anak-anak perempuan, perkosaan, penipuan, dan sebagainya, rasa-rasanya keinginanku semakin kuat untuk kembali melanjutkan misi tersebut…
Semoga, insya Allah…

Bandung, 04012013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s