Pelajaran Berharga

Kejadian ini terjadi di awal tahun 2012. Ketika aku baru saja mengalami kekecewaan di tempat kubekerja. Karena galau dan kecewa itu, barangkali Tuhan memberiku hiburan dengan adanya informasi yang kuperoleh dari teman yang bekerja di Jakarta. “Ada lowongan untuk menjadi TA (Tenaga Ahli) bidang pendidikan untuk Wakil Ketua DPR bidang K*******”, katanya. Wah, gak ada salahnya mencoba nih. Aku gak merasa ahli di bidang pendidikan, tapi setidaknya aku punya keinginan untuk belajar dan menggali pengalaman di bidang yang selama ini aku tekuni. Lagipula, aku orangnya cenderung bersifat analitik, kritis dan… seneng jalan-jalan (looh, apa hubungannya? Ya, siapa tahu bisa keliling Indonesia dan studi banding ke luar ngeri eh negeri kayak wakil-wakil rakyat itu…ahahay…). Bercanda deng. Motivasi sebenarnya sih ingin mengembangkan diri dan turut berpartisipasi dalam mengembangkan pendidikan (idealnya begitu lah…:) ). Adapun yang datang setelah itu, aku tak begitu pikirkan. Yang penting mendapat pengalaman saja dulu. That’s it.

Selain itu, aku pernah punya pengalaman menjadi sekpri staf JICA, dan sejak kuliah, jabatan sebagai sekretaris kerap aku terima. Ditambah dorongan semangat tak henti-hentinya yang diberikan oleh temanku itu, maka berangkatlah aku ke Jakarta untuk menyerahkan berkas lamaran.

Berbekal informasi dari teman, aku bertemu dengan seorang staf (bawahan langsung sang WK DPR) yang ramah. Di sela-sela kesibukannya, beliau menerimaku dengan memberitahukan informasi seputar pekerjaan yang nantinya akan dilakukan. Dalam percakapan itu terucap bahwa pada intinya beliau cenderung memilihku, tapi keputusan akhir tetap ada pada pengguna (kayak narkoba aja…hehehe…), maksudnya yang akan menggunakan tenagaku itu. Aku hanya mengiyakan. Setelah itu, beliau memperlihatkan ruangan yang nantinya akan ditempati oleh calon TA Wakil Ketua DPR dimaksud.

Hmm…aku sih antara harap dan takut. Harap karena dari 24 orang pelamar untuk posisi tersebut, yang diterima untuk mengikuti tes adalah 4 orang. Aku salah satu dari 4 orang itu. Takut karena sebelumnya aku mendengar bahwa menjadi TA itu nepotisme, artinya jangan berharap kalau bukan dari kalangan keluarga, kerabat, alumni atau teman sendiri bisa diterima di situ. Karena itu jarang dipublikasikan. “Sudah, gak usah diteruskan. Capek-capekin diri aja…”, begitu saran temanku. Tapi, melihat pengumuman yang diterima untuk tes terpampang di website resmi DPR RI, keraguanku surut kembali. Ah, tanggung. Gak ada salahnya mencoba. Aku ini orangnya ngeyel juga sih. Belum kapok kalau belum mengalami sendiri…hhfft…

Tiba hari tes itu. Aku bertemu dengan beberapa calon TA untuk berbagai komisi. Sedangkan untuk calon TA Wakil Ketua DPR bidang K*******, aku hanya bertemu 2 orang. Keduanya dosen dari perguruan tinggi swasta di Jakarta. Berarti tinggal menunggu satu orang lagi, pikirku. Namun, hingga tes usai, satu orang peserta tes itu tidak juga muncul. Hmm…pikiranku mulai melayang-layang. Peserta yang tidak mengikuti tes itu berasal dari Perguruan Tinggi yang sama dengan WK DPR yang kusebut di atas. Jangan-jangan…ah, aku harus berbaik sangka.

Aku kerjakan tes dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk menghasilkan yang terbaik, as always (karena itulah yang diajarkan oleh bapakku…Love you, bapak…hiks…). Begitu juga saat diskusi bersama peserta tes satu kelas itu. Kami bisa menilai satu sama lain, dari pendapat dan gagasan yang dikemukakan masing-masing peserta. Wah, pokoknya harapanku semakin besar saja saat itu…Kalau aku keterima, tugas mengajar mau aku pending dulu barang setahun, sambil membayangkan kesejahteraan keluargaku akan meningkat jika sekiranya aku diterima menjadi TA (daydreaming)…Tapi sekali lagi, harapku itu masih saja dibuntuti oleh rasa takut…

Sebulan. Tidak ada kabar. Dua bulan, kabar tentang hasil tes tak juga muncul. Enam bulan berlalu dan aku sudah mulai lupa-lupa ingat.

Sekarang, setahun sudah. Sampai hari dimana aku menulis coretan ini, aku belum menerima juga surat tentang hasil tesku. Boro-boro surat hasil tes, pengumumannya saja tidak ada di website. Padahal ketika kutanyakan kepada pihak panitia kapan pengumuman hasil tes diberitahukan, mereka mengatakan akan disampaikan lewat surat atau email.

Apa suratnya nyasar ya? Ah, masak sih. Surat-surat lain aman-aman saja tuh sampai ke rumahku. Mulailah aku menduga-duga. Barangkali benar apa yang dikatakan temanku bahwa nepotisme masih mendominasi di lembaga yang katanya mewakili rakyat itu. Kedekatanlah, dan bukan kompetensi atau kemampuan yang dilihat.

Ya, aku merasa bodoh. Bodoh tak mau mendengarkan saran temanku itu. Tapi setidaknya aku telah belajar. Belajar sambil merasakan dan mengalami sendiri bagaimana melamar jadi TA (ini namanya menghibur diri sendiri, heheh…).

Mengapa aku menceritakan ini semua? Aku berharap bisa menjadi pelajaran. Pelajaran bagi siapa saja yang membacanya…

Bandung, 25022013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s