Catatan Perjalanan ke kota Ambon dan kota Ternate…

Ada email masuk. Tiket GA Ambon-Jakarta, Jakarta-Ambon. Seperti mimpi rasanya. Tapi itulah salah satu episode hidup yang harus dijalani.

Alhamdulillah. Pesawat mendarat dengan sempurna. Ini pertama kali aku menginjakkan kaki di kota Ambon. Panas mulai terasa menyengat. Padahal hari masih pagi, kurang lebih pukul 8.

Bulan November 2013. Aku diberi kesempatan oleh Direktorat PSMA untuk melakukakan bimbingan teknis (bimtek) pembinaan pasca EHB. Satu di Ambon, satu lagi di kota Ternate.  Suatu kesempatan yang tidak terduga sebelumnya dan merupakan pengalaman baru.  Meski singkat dan padat (hanya 3 hari) ditambah 2 hari perjalanan pergi dan pulang, namun cukup mengesankan. Bukan pelatihannya yang akan kuceritakan di sini. Namun pengalaman hidup dari dua orang kepala sekolah.

Di kota Ambon.

Kriing…

Kepala Sekolah yang menjadi tempat bimtek, menelponku. Beliau sudah menunggu di depan bandara. Alhamdulillah…

Dari Bandara perjalanan berlanjut ke tempat penginapan. Sepanjang perjalanan, bapak kepala sekolah tak merasa bosan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Beliau menyebutkan setiap nama tempat yang kami lewati. Namun, aku tak bisa mengingatnya satu per satu (nama-namanya sulit dihafal heheh…). Selama kegiatan bimtek aku diantar jemput oleh bapak kepala sekolah. Sebut saja bapak B. Dan dalam perjalanan tersebut beliau banyak bercerita tentang kerusuhan Ambon yang terjadi beberapa tahun ke belakang. Sebuah cerita yang tak tersiarkan. The untold story. Mendengarnya saja membuat bulu kudukku berdiri. Ngeri…

Ketika di Ambon, sekolah yang menjadi sasaran bimtek adalah sebuah sekolah swasta. Terletak di dekat pantai. Halamannya cukup luas. Ternyata kegiatan bimtek tidak diadakan di situ, namun di sebuah SMA negeri yang lokasinya lumayan jauh. Harus menggunakan kapal ferry untuk menyebrang. Jalan darat juga bisa sih, namun cukup memakan waktu.

Waktu kegiatan bimtek. Aku dibantu oleh salah seorang fasilitator daerah yang baik hati dan tidak sombong heheh…Kami pun berbagi tugas. Aku sangat terbantu dengan kehadiran beliau.

Para peserta pun sangat antusias selama mengikuti bimtek. Tanya jawab dan diskusi berlangsung seru. Di sesi presentasi, banyak peserta yang mengacungkan tangan ingin mempresentasikan hasil pekerjaannya. Yang menarik, ada peserta yang sudah pensiun dan ada juga yang baru selesai operasi katarak. Keduanya mengikuti bimtek dengan semangat 45. Salut deh pokoknya.

Pagi-pagi sekali aku sudah dijemput oleh bapak kepala sekolah. Bahkan pernah saat adzan subuh baru saja berkumandang beliau sudah nongkrong di depan tempat penginapan. Belakangan aku baru tahu dari salah seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut bahwa bapak B suka menyanyi. Jadi jika ada panggilan menyanyi, maka beliau akan pulang pagi. Semua itu beliau lakukan untuk menambah biaya hidup sehari-hari. Ketika aku berkunjung ke kediaman beliau, ternyata bapak B memiliki 9 anak asuh. Mereka ada yang dari luar Ambon, ada juga yang yatim. Ada yang beragama Islam, ada juga yang Nasrani. Subhanallah…

“Rumah saya kosong tidak ada apa-apanya. Tapi, saya tidak mau rumah sepi karena tidak ada penghuni. Untuk apa rumah besar tapi sepi…”, begitu beliau berkata.

Di sebuah halaman luas bersebelahan dengan sekolah milik bapak B, aku lihat beberapa ekor sapi. Hewan-hewan itu tidak diberi kandang. Ketika kutanyakan apakah sudah ada yang mengelola kotoran sapi menjadi gas bio di daerah tersebut, beliau menjawab belum ada. Wah, kesempatan baik nih, pikirku. Lalu aku bercerita bagaimana dari kotoran sapi bisa dihasilkan gas bio sebagai energy alternative pengganti minyak tanah. Dari ekspresi wajahnya beliau terlihat sangat tertarik. Lalu aku diajak ke belakang rumahnya. Beliau berminat untuk membuat gas bio di rumahnya terlebih dahulu. Dalam hati aku berniat: sesampainya di Bandung, aku harus mengirimkan bukuku kepadanya. Siapa tahu bermanfaat…

Di Kota Ternate.

Aku kembali ke daerah Maluku. Kali ini Maluku Utara. Sama seperti ketika di Ambon. Aku tiba sekitar pukul 7.30 pagi. Udara panas mulai terasa menerpa wajah.

Kriing…

Kepala sekolah sudah menunggu dari pagi. Aku dijemput oleh kepala sekolah dan seorang rekan fasilitator yang berasal dari Manado. Beliau tiba lebih dahulu sehari sebelumnya. Aku masih menunggu bagasi koper yang tak kunjung muncul. Setelah kurang lebih 15 menit aku berdiri mematung, akhirnya kulihat koperku ‘berjalan’ menghampiriku…Fiuuuh, Alhamdulillah…

Hari itu hari Kamis. Hari pertama pelaksanaan bimtek. Jadi, aku tak sempat mandi (lebih tepatnya: tak ingat untuk mandi heheh) ataupun menyimpan koperku di tempat penginapan. Jadi kami langsung ke lokasi kegiatan.

Di kota Ternate, aku menikmati pemandangan sepanjang perjalanan menuju sekolah tempat diadakannya bimtek. Pemandangan pantai Falajawa pun aku nikmati hampir setiap malam karena lokasinya sangat dekat dengan tempat aku menginap.

websmall             Salah satu pemandangan indah di kota Ternate: Pulau yang ada di uang seribu …:-)

Setiap pagi kami diantar jemput oleh bapak kepala sekolah. Selama dalam perjalanan itu beliau banyak bercerita baik tentang sejarah kota Ternate maupun pengalaman hidupnya. Beliau menceritakan  bagaimana perjalanan karirnya sebagai guru hingga menjadi kelapa sekolah saat ini dan memiliki beberapa kebun serta tanah yang luas. Beliau memiliki satu putri yang saat itu sedang menyelesaikan kuliah tahun terakhirnya. Beliau juga memiliki dua anak angkat. Kedua anak yatim tersebut adalah putra dari kakak iparnya yang meninggal saat keduanya masih berusia balita…

Banyak hikmah yang kuambil dari kedua sosok kepala sekolah tersebut. Bahwa kesuksesan yang mereka raih bukan hasil dari menaiki elevator, melainkan melalui tangga-tangga kecil penuh keringat dan air mata. Aku pikir ada dua kata kunci yang mereka genggam selama ini: kerja keras dan pantang menyerah.

Oh, satu hal lagi. Aku jadi teringat pada sebuah hadits Nabi SAW:

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku dan orang yang mengurus (menanggung) anak yatim (kedudukannya) di dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan (kedua jarinya yaitu) telunjuk dan jari tengah serta agak merenggangkan keduanya” (HR. Imam Al-Bukhari).

Ah, sungguh beruntung pernah bertemu keduanya…

Terimakasih Direktorat PSMA!

Akhir November 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s