Surat Untuk Bapak-bapak bergelar Kiai Haji (KH), Ulama dan Ustad yang tergabung dalam Deklarasi Anti Syiah…

Assalamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakaatuh…

Kepada yang saya hormati:
Bapak-bapak bergelar KH, Ulama dan Ustad yang tergabung dalam pertemuan Deklarasi Anti Syiah, 20 April 2014.

Semoga rahmat dan karunia Allah senantiasa tercurahkan kepada kita semua…

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada bapak-bapak sekalian, ijinkan saya menulis surat terbuka ini untuk mencurahkan apa yang ada dalam pikiran saya. Saya bukan hendak menggurui, meskipun saya saat ini berprofesi sebagai guru di sekolah yang bapak-bapak anggap sesat itu. Saya hanya prihatin dan sedih ketika membaca hasil pertemuan bapak-bapak sekalian yang akhirnya membentuk LPAS (Laskar Pemburu Aliran Sesat). Jika aliran sesat yang bapak-bapak maksud adalah yang diusung oleh Ustad Jalaluddin Rakhmat, maka ijinkan saya untuk mencurahkan pandangan saya sebagai orang awam di sini.

1. Saya mungkin TIDAK HAFAL dalil-dalil atau ayat-ayat Al-Quran maupun Hadist yang menjadi dasar bagi bapak-bapak untuk membentuk LPAS, yang katanya untuk membubarkan ajaran Syiah. Namun, yang saya HAFAL selama kurang lebih 15 tahun mengajar di sekolah yang bapak2 anggap sesat itu adalah bahwa setiap hari saya mendengar shalawat yang diucapkan baik oleh siswa-siswi maupun guru-gurunya.
#Pengamalan QS Al Ahzab: 56 yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. Lalu, di mana letak menghina Nabi nya, ya?

2. Saya mungkin TIDAK TAHU latar belakang apa yang membuat bapak-bapak begitu membenci Ustad Jalaluddin Rakhmat (jika memang ada unsur kebencian di dalamnya). Namun yang saya TAHU adalah bahwa sekolah yang diprakarsai oleh Ustad Jalal mengajarkan cinta dan kasih sayang pada 4 hal, yaitu:
1. Cinta kepada Allah Swt
2. Cinta kepada Rasulullah dan keluarganya
3. Cinta kepada Orangtua
4. Cinta kepada kaum yang lemah (mustadh’afin).

Salah satu implementasi point ke-4 adalah melalui program tahunan yang disebut SWC (Spiritual Work Camp). Apa itu SWC? Spiritual Work Camp adalah program Dirasah Islamiyah bagian dari kurikulum SMA Plus Muthahhari. Sesuai dengan visi dan misinya yaitu pembinaan akhlak dan meraih cinta Ilahi dengan berkhidmat dan mengabdi kepada masyarakat. Melalui program ini diharapkan murid-murid dapat mengambil ‘itibar (pelajaran) dari apa yang didapat dari kehidupan di tengah-tengah masyarakat terutama masyarakat kecil di pedesaan.
#Upaya pengamalan QS Al Baqarah: 177: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Jika ingin tahu kesan apa saja yang diperoleh siswa selama mengikuti SWC, dapat dibaca di sini:
http://reginabcd.blogspot.com/2012/06/spiritual-work-camp.html
http://theseptember30th.blogspot.com/2008/08/spiritual-work-camp.html
http://activitiesinsmuth.weebly.com/1/post/2013/06/hikmah-swc.html

3. Saya juga mungkin TIDAK PERNAH BELAJAR ilmu agama atau bahasa Arab di universitas-universitas terkenal di Mesir, Turki atau Arab Saudi seperti yang bapak-bapak pernah pelajari. Namun yang saya rasakan, saya BANYAK BELAJAR tentang bagaimana menghormati perbedaan selama saya berada di lingkungan yang bapak-bapak anggap sesat itu. Saya juga belajar bagaimana berempati. Kalau bapak-bapak lupa apa arti empati, berikut saya kutipkan dari wikipedia makna empati menurut Hodges, S.D., & Klein, KJ. Empati yaitu kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain. Dalilnya dalam Al Quran, saya yakin bapak-bapak lebih mengetahuinya…

4. Saya juga mungkin tidak tahu apa yang terjadi dengan saudara-saudara muslim saya di luar sana yang, katanya, ada yang hilang atau terjebak dalam nikah kontrak. Namun yang saya pernah tahu adalah bahwa dalam aliran atau agama apapun juga, yang namanya oknum atau pelaku perbuatan buruk itu pasti ada. Yang menyalahgunakan agama, mengatasnamakan agama, tak peduli itu haram atau menyengsarakan orang lain, agar keinginannya tercapai, itu pasti selalu ada.

Ini baru sebagian kecil pelajaran yang saya peroleh dari lingkungan yang oleh bapak-bapak dianggap sesat itu…

Dengan menulis ini mungkin saya dianggap ‘menyebarkan’ ajaran yang oleh bapak-bapak dianggap sesat itu. Namun saya lebih suka disebut jika saya berusaha menyebarkan persatuan dan kesatuan serta perdamaian di negeri yang sama-sama kita cintai ini. Jika bapak-bapak takut bahwa Indonesia bisa jadi akan menjadi seperti Irak, Suriah, Yaman dan negara-negara di Timur Tengah yang telah diacak-acak oleh mereka yang tidak suka melihat umat Islam bersatu, maka saya lebih takut lagi jika LPAS yang bapak-bapak bentuk akan membuat kerusuhan dan kerusakan dimana “penindasan diubah menjadi cara meraih pahala dan surga; pembunuhan, penjarahan dan semua tindakan yang menurut standar logika adalah baik, menjadi kebiadaban seperti yang terjadi di Madura dan Jember, Jawa Timur beberapa tahun lalu”. Dan saya akan lebih takut lagi jika umat Islam hanya berkutat dalam lingkaran setan masalah perbedaan mazhab, namun tidak peduli jika umat Islam tidak membaca… (silahkan baca link ini: http://satriadharma.com/2014/04/19/kenapa-orang-indonesia-luar-biasa-sedikit-alias-tidak-membaca-buku/#more-935)

Sekali lagi, mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada bapak-bapak yang saya hormati, yang gelarnya sudah saya sebut di atas, jika saya dianggap lancang…

Jika bapak-bapak meyakini bahwa Allah-lah yang Kuasa membolak-balikkan hati, Allah-lah yang memberi petunjuk/hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki, sehingga tidak sedikit kita lihat ada manusia yang tadinya preman bisa tiba-tiba berubah menjadi beriman, ada yang tadinya kafir lalu seketika meyakini bahwa Rasul Muhammad saw adalah Nabi terakhir, lantas untuk apa caci maki dan cela terhadap orang lain yang “terlihat kurang sejalan”, “terlihat kurang sependapat”, dan “terlihat sedikit berbeda” kita lontarkan?

Rasanya melelahkan jika tujuan hidup hanya untuk mencari-cari kesalahan orang lain atau memelihara benci dalam hati. Sementara orang-orang yang tidak suka melihat umat Islam berpegangan tangan, semakin maju menguasai dunia serta ilmu pengetahuan…Kenapa kita tidak berlomba-lomba saja dalam kebaikan?

Demikian surat ini saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada kesalahan tulisan ataupun penafsiran. Terimakasih sudah berkenan membaca…

Wassalamu’alaikum W.W.

Bandung, 21 April 2014

Dari seorang ibu, guru dan hamba Allah yang cinta damai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s