Asesmen

Asesmen (dari buku Teaching With Multiple Intelligences by Julia Jasmine, M.A.)

Bisakah Kecerdasan Dinilai?

Kita tahu bahwa kecerdasan linguistik dan logis matematis dapat dinilai karena kita sering melakukannya. Semua tes standar menilai kalau tidak melalui bahasa – secara lisan atau tertulis – atau melalui angka-angka matematis yang digabungkan dengan bahasa.

 

Bisakah kecerdasan lain yang diidentifikasi oleh Howard Gardner-visual, kinestetik, musikal, interpersonal dan intrapersonal-dinilai? Dan, jika ya, bagaimana bisa dilakukan tanpa memfilter asesmen melalui bahasa, logis dan matematis? Dalam catatan Project Spectrum, Gardner berbicara entang asesmen yang bersifat adil. Asesmen yang mempertimbangkan kecerdasan lain yaitu bisa menilai secara langsung dan tidak melalui media kecerdasan lain (Gardner, 1993). Gardner menyarankan siswa diberi objek konkrit untuk menggerakkan semua domain. Dia menyebutkan menggunakan bel dimana anak-anak dapat bermain pola musikal untuk menilai kecerdasan musikal dan menggunakan gambar-gambar kecil yang menggambarkan guru serta teman sekelas guna menilai pengetahuan siswa tentang dinamika sosial (kecerdasan iterpersonal).

 

Instrumen Apa yang Bisa Digunakan?

Instrumen tes serta prosedur apa yang kita miliki sekarang yang bisa menilai kecerdasan secara adil? Kebanyakan teknik asesmen alternatif bisa disesuaikan untuk tujuan ini.

 

Kritik mengenai metode asesmen alternatif dikatakan asesmen tersebut tidak dapat dipercaya. Asesmen yang dapat dapat dipercaya didefinisikan sebagai asesmen yang konsisten, siapapun yang menskornya. Hal ini benar untuk tes norma, tes yang diujikan pada perwakilan populasi dan distandardisasi untuk menghasilkan persentase, kesetaraan tingkat dan nilai bersifat huruf-yang semuanya digunakan untuk tujuan perbandingan.

 

Asesmen alternatif tidak objektif. Bahkan, bersifat subjektif. Ia menggunakan instrumen seperti pengamatan dibuktikan dengan ceklist dan catatan anekdot serta portofolio dengan rubrik dan refleksi. Tidak bersifat pasti. Aplikasinya bisa bervariasi dari satu tempat dengan tempat lain, sekolah satu dengan sekolah lain, guru dengan guru, dan siswa dengan siswa lainnya. Merupakan alat untuk mengukur performance siswa secara terus menerus.

 

Macam-macam pengamatan yang dirinci oleh Gardner dalam catatan Project Spectrumnya kebanyakan terdiri atas berbagai macam pengamatan yang diringkas oleh tim peneliti di akhir tahun. Anak-anak dilibatkan dalam dalam proyek asesmen ini, dengan demikian bagian dari proses ini dirancang untuk mengidentifikasi kecerdasan. Masih, tujuan lain adalah untuk membuat rekomendasi berdasarkan pada asesmen tentang langkah-langkah yang harus diambil baik di sekolah maupun di rumah, suatu kepedulian Gardner yang dirasa telah lama diabaikan.

 

Aplikasi Di Kelas

 

Meskipun Gardner merekomendasikan dan melakukan penelitian mengenai asesmen kecerdasan, ia melihat prosesnya dari sudut pandang seorang psikolog. Terserah pada pendidik untuk mengambil informasi ini dan mengaplikasikannya secara konsisten dengan apa yang sebenarnya terjadi di sekolah. Guru menyadari tanggungjawab baik kepada administrator dan orang tua maupun masyarakat. Jadi, alat apa yang saat ini ada, dan bagaimana guru bisa menggunakannya untuk untuk menilai ketujuh kecerdasan dan memenuhi tanggung jawab profesionalnya? Mari kita lihat instrumen yang disebutkan di atas- pengamatan diverifikasi oleh ceklist dan catatan anekdot, serta portofolio dengan rubrik dan refleksi- tapi pertama sekilas kita lihat diagnosis.

 

Diagnosis

 

Observasi

Pengamatan di kelas terdengar lebih mudah. Setiap orang dengan beberapa pengalaman dan empati bisa mengamati sekeliling kelas dan melihat apa yang terjadi, tapi agar bisa digunakan sebagai alat asesmen, pengamatan harus terstruktur, didokumentasikan dan diulang pada jarak waktu yang tertentu.

 

Pengamatan dapat diatur dengan cara dihubungkan pada aktifitas tertentu. Misalnya, anda mungkin ingin memutuskan secara formal mengamati kelompok kooperatif anda untuk menentukan tingkat performance mereka dalam area kecerdasan interpersonal. Setelah memikirkan ini, anda akan merancang ceklis yang mudah digunakan mewakili tujuan-tujuan yang ingin dicapai kelompok.

 

Anda kemudian akan mendokumentasikan pengamatan anda dengan menggunakan ceklist yang dirancang dan mengulang proses ini sebulan sekali, semester satu kali atau kapan saja jarak waktu yang tepat bagi anda. Proses ini akan memberikan catatan kemajuan yang konsisten sepanjang waktu tertentu.

 

Ceklist

Ceklis yang disebutkan di atas tidak semudah kedengarannya. Ceklis merupakan sejumlah daftar yang harus dicek oleh guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s