My Biology Poems

Pagi yang cerah,

namun hati gundah.

Pandangan mata kualihkan keluar jendela,

lalu kulihat warna warni alam semesta.

Paduan warna nan cantik sang Pencipta.

 

                                                                   taken @05:17, 24.10.2011

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. Al Jumu’ah:1)

 

Kutatap sekali lagi,

mencari siapa yang Kau maksud, sedang bertasbih di langit tinggi.

Burung-burung kecil yang sedang bernyanyi itukah?

Atau awan-awan yang berarak indah?

 

Menatap takjub keserasian goresan lukisan-Mu,

Seketika lenyapkan kegundahan hatiku.

 

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahman: 16)

 Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1394] dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS. Al-Fath:4)

 

Tuhan,

Satu lagi pintaku.

Jangan Engkau palingkan aku dari keimanan kepada-MU

setelah Engkau beri aku hidayah-MU…

 

 

Biologi Cinta

(puisi untuk remaja yang sedang pubertas)

Jatuh cinta adalah perubahan sementara

Saat dopamin dan norenephrin tinggi kadarnya

Aku lupa segalanya

            Makan aku tak mau

            Tidurpun takkurasa perlu

            Yang kuingat

            si dia selalu

Ya Ilahi,

ada apa denganku ini?

Aku jadi sulit konsentrasi

Tak kupeduli kanan dan kiri

Yang kuingat

saat dia presentasi

pelajaran biologi

            Jatuh cinta

            pengalaman segala rasa

            saat usia beranjak remaja

            Namun bila kutak menjaganya

            Hancurlah cita-cita

Wahai Yang Maha Perkasa

Engkau Pemberi rasa cinta

Engkau pula yang berhak mencabutnya

Bimbinglah aku dalam menghadapi masa

penuh goda

Agar kelak kumengerti

makna cinta yang hakiki.

 

Maha Kaya

Seekor semut mondar-mandir

dari tengah lalu ke pinggir

lalu ke tengah dan ke pinggir.

Barangkali ia sedang berzikir

barangkali ia berpikir,

mengapa manusia tak mau minggir

ketika semut-semut menyisir

bergotong royong mengangkut gula sebutir

ketika semut-semut menyisir

bekerjasama menggotong serpihan kue di cangkir.

        Seekor semut mondar-mandir

        dari tengah lalu ke pinggir

        Lalu ke tengah dan ke pinggir

        Ia semut…

        tidak kikir.

 

 

Maha Adil

Seorang anak bertanya dengan lembutnya

Duhai Bunda, mengapa bintang tak sebulat bulan?

Seorang anak bertanya dengan semangatnya

Duhai Bunda, mengapa merpati tak sekuat rajawali?

Seorang anak bertanya dengan takjubnya

Wahai Bunda, mengapa daun tak seindah bunga?

Seorang anak bertanya dengan takutnya

Wahai bunda, mengapa siang berubah menjadi malam?

 

Sang Bunda menjawab dengan hatinya

Wahai anakku,

Bintang tak sebulat bulan

menandakan bahwa harapan

adalah sebanyak bintang bertaburan

Bila merpati sekuat rajawali

akan hancurlah bumi

karena tak ada yang menjadi tangan ataupun kaki

tak ada yang menjadi mata atau telinga

semuanya ingin menjadi kepala

Bila daun seindah bunga

siapa yang akan melindungi buah

penyimpan sari

harumnya kaucium nan mewangi

Bila senantiasa siang

kau ’kan lupa syukur atas ni’matNya yang diberikan

Dan agar engkau tahu

bahwa hidup tak selamanya senang

karena hidup

adalah untuk berjuang

agar sampai ke seberang

dimana seluruh manusia akhirnya ditentukan

kalah atau menang

Yang kaulihat

itulah keseimbangan

itulah keadilan

Tuhan.

2 thoughts on “My Biology Poems

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s